Radarjombang.id - LANJUTKAN.. begitu ucap saya ke Prof Haris Supratno (Rektor Unhasy), ketika ramah-tamah sebelum memasuki tenda Konferwil saat membahas calon ketua PWNU Jatim mendatang.
Hadir di pembukaan konferensi wilayah NU Jatim ke 18 kemarin adalah suatu kebahagiaan tersendiri.
Bisa silaturrahim dengan para kiai dari luar kota dan tokoh-tokoh masyarakat yang sulit ditemui. Dari acara yang dihadiri juga para konsul negara-negara sahabat itu, saya menangkap kode keras yang disampaikan oleh para pemberi sambutan : “Jangan main-main dengan NU”.
Karena begitu berulang dan jelasnya pesan itu, sehingga seorang kiai di sebelah saya berbisik : “Sebenarnya hal-hal begini ini disampaikan saat sidang pleno saja.
Soalnya yang hadir ini kan banyak tamu dari luar NU..”. Ya begitulah NU, terbiasa sekali dengan perbedaan pendapat, tapi sangat mentradisikan 3 G : Guyub, Gayeng dan Guyon ( menukil sambutan Gus Irfan, selaku Shahibul Bait ).
Hal itu seolah dibenarkan oleh Gus Yahya ketika mencontohkan kerukunan Bu Khofifah dengan Gus Ipul di kepengurusan PBNU saat ini.
Padahal beberapa kali mereka di ajang pilgub berkontestasi bersama.
Itulah yang menyebabkan beberapa pengamat NU gagal menggambarkan secara faktual pola interaksi, komunikasi dan organisasinya bila si pengamat hanya melihat dari yang tampak di permukaan saja.
Apalagi bila amatannya itu menggunakan perspektif ilmu organisasi Barat. Maka untuk mendeskripsikan NU, orang harus memahami dulu value dan culture organisasi tersebut dengan menjadi bagian yang aktif dalam hidup berke-NU-an. Apakah harus mendaftarkan diri menjadi anggota organisasi NU..? Nanti dulu.
Di sinilah uniknya NU. Satu-satunya organisasi yang orang lebih senang “merasa” daripada “mendaftar” menjadi anggotanya secara resmi.
Itu terbukti dengan belum tuntasnya proses KARTANU hingga sekarang.
Oleh karena itu, bila ada yang mengkategorikan kelompok NU menjadi dua : Struktural & Kultural, maka saya ingin menambahkan satu lagi : NU sentimental.
Yaitu pribadi muslim yang sama sekali tidak pernah pengenyam pendidikan berbasis NU atau mengaji pada kiai-kiai Aswaja dan tidak pernah terlibat dalam organisasi yang berafiliasi dengan NU tapi dia memiliki sentimen rasa hormat dan mendukung sikap politik dan amaliah ibadah nahdliyah.
Kelompok ini ada pada berbagai lapisan masyarakat dan profesi. Mereka merasa lebih nyaman dengan NU yang moderat dan toleran.
Mereka juga tidak khawatir disalah-salahkan atau diharam-haramkan bila melakukan aktifitas keagamaan yang memang belum mereka kuasai betul amaliahnya.
Pernyatan-pernyataan yang tersirat itu sering saya tangkap justeru dari kalangan kampus-kampus umum.
Kalau dari akademisi saja berpersepsi seperti itu apalagi di kalangan awam. Tentu lebih banyak lagi. Sehingga saya berani berspekulasi bahwa seiring perjalanan waktu, sepertinya jumlah NU sentimental ini sekarang lebih banyak dibanding dua kelompok yang lain. Sebagaimana jumlah Islam KTP di negeri kita yang lebih banyak daripada Islam ta’at.
Maka saya pikir tepat sekali ketika Ketua Umum PBNU kemarin menyampaikan bahwa NU ini tidak lagi sekedar sebagai sebuah organisasi tapi sudah menjelma sebagai sebuah peradaban yang tentu bisa melampaui batas teritorial negara.
Kembali ke konferwil.
Dengan dilaksanakannya secara megah di Tebuireng dan tanpa sambutan satupun dari pejabat pemerintah, NU tampaknya ingin memberi pesan bahwa “aku mandiri dan bisa melakuan apa saja yang ku mau”.
Pesan yang relevan sekali dengan narasi pidato ketua PW maupun PBNU di atas. Alamat tujuan pesan ini sangat jelas, yaitu pada pihak-pihak yang mencoba menghalangi kebijakan-kebijakan NU.
Maka dengan terpilihnya kembali KH. Abd. Hakim Mahfud (Gus Kikin) sebagai ketua PWNU Jatim definitif, akan makin memperkuat kaitan gerbongnya pada lokomotif NU yang dimasinisi Gus Yahya dan didampingi Gus Ipul.
Akibatnya, bisa menjadi pertanda buruk bagi pihak yang tidak sejalan dengan rel NU yang saat ini kian tegak lurus ke PB.
Adakah dampak sikap lugas NU itu pada dinamika pilkada di Jawa Timur sebentar lagi..? Jelas ada. Jumlah pemilih nahdliyin itu mayoritas.
Maka siapa pun Anda dan dari partai apa pun, bila Anda hendak membidik suara nahdliyin, baik struktural, kultural maupun sentimental, mintalah restu pada pengurus NU setempat dan binalah silaturahim dengannya.
Agar bila ditanya jamaahnya, beliau berkenan memberikan info bahwa Andalah calon kepala daerah yang akan dipilihnya.
Akhirnya, pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan rasa syukur alhamdulillah atas terselenggaranya Konferwil NU Jatim dengan lancar dan sukses.
Semoga para penerima amanatnya senantiasa mendapatkan maunah, barokah, dan Ridha Allah SWT. Amiin. (*)
Editor : Anggi Fridianto