Surah Alquran yang menerangkan hari kiamat itu banyak. Ada alqiyamah, alwaqi’ah, altakwir, alinfithar, alinsyiqaq dan lain-lain.
Tapi yang menggunakan gaya ’’tanya’’ hingga idiomnya diulang tiga kali dan masing-masing dihitung sebagai satu ayat tersendiri cuma ada di dua surah. Yakni alqariah dan alhaqqah.
Pada surah kaji ini bunyinya: Alqari’ah. Ma al-qari’ah. Wa ma adrak ma al- Qari’ah, tiga ayat.
Begitu halnya surah Alhaqqa : al-Haqqah. Ma al-Haqqah. Wa ma adrak ma al-Haqqah, tiga ayat.
Sedangakn surah ’’al-qadr’’ bukan tentang Hari Kiamat. Di samping itu, ada antaran kalimah lain, ’’Inna anzalnah fi ...’’
Gaya ’’tanya’’ model ini hanya ada di Alquran dengan ciri khas yang memukau, serta tidak ada di tradisi bahasa Arab budaya.
Kemudian, para pemerhati bahasa Alquran mengomentari:
Pertama, bahwa obyek bahasan yang diunggah pada surah dengan model pertanyaan tersebut sangat agung dan belum dipahami oleh umat manusia, sehingga sangat perlu sekali diperhatikan.
Kedua, makanya, di dalam Alquran, setiap kali ada pertanyaan model ini, ’’Wa ma adrak ma..’’, maka pasti dijawab, dijelaskan sendiri oleh Allah SWT langsung.
Ya, karena umat manusia belum mengerti, apa yang dimaksud dengan idiom baru tersebut.
Perhatikan baik-baik: Pertama, ’’Wa ma adrak ma al-Huthamah?’’ Tahukah kalian, huthamah itu apa? Dan langsung dijelaskan sendiri oleh Tuhan: ’’Nar Allah al-muqadah.’’ Neraka Allah yang menyala-nyala. (al-Humazah).
Baca Juga: THE HORSE (32)
Kedua, surah kaji ni. Wa ma adrak ma al-qari’ah. Yaum yakun al-nas ka al-farasy al-mabtsuts. Dan seterusnya.
Ketiga, wa ma adrak ma lailah al-qadr? Yang dijelaskan langsung oleh Tuhan: ’’Lailah al-qadr khair min alf syahr…’’ (al-qadar).
Keempat, wa ma adrak ma al-‘Aqabah? Fakk raqabah, (al-Balad).
Kelima, wa ma adrak ma al-Thariq? Penjelasan Tuhan: al-naj al-tsaqib. (al-Thariq). Keenam, wa ma adrak ma al- Haqqah.? Jawaban-Nya: Kadzdzabat Tsamud wa ‘Ad bi al-qari’ah.. (al-Haqqah).
Semua yang tertera di atas adalah ’’istilah’’ yang hanya dimengerti Tuhan Sendiri, makanya, langsung dijelaskan.
Itu artinya, Tuhan tidak mau membuat umat-Nya berpusing-pusing memikirkan idiom baru, karena sudah pasti mereka tidak akan bisa menjawab.
Tuhan tidak membuat pertanyaan sensasi dengan menanyakan istilah, idiom atau singkatan.
Ya, karena itu tidak fair dan tidak esensial. Apalagi singkatan yang tidak popular dan hanya dipahami Tuhan Sendiri.
Sifat Tuhan adalah penyayang, al-Rahman, maka semua pertanyaan di dalam Alquran sangat terbuka, substansial, dialogis dan logis.
(bersambung, in sya’ Allah).
Editor : Achmad RW