Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Kiamat (1)

Achmad RW • Jumat, 2 Februari 2024 | 13:20 WIB
Rubrik Tafsir Kontemporer yang diasuh KH Mustain Syafii.
Rubrik Tafsir Kontemporer yang diasuh KH Mustain Syafii.

Al-qari’ah, gedoran, gebrakan, ketukan, yang kemudian diartikan sebagai Hari Kiamat. ’’Qara’tu al-bab’’, saya mengetuk pintu.

Al-qari’ah, bentuk isim fa’il dengan pola feminimistik, mu’annats.

Huruf ”ta” pada kata al-qari’ah tidak berarti “cewek”, atau si penggedor berjenis kelamin wanita, melainkan berfaidah ’’mubalaghah’’ (sangat, seru, sungguhan).

Jadinya al-qari’ah adalah gedoran maha dahsyat, di mana tidak ada gedoran yang sedahsyat itu menimpa dunia ini dan itulah hari Kiamat.

Berbagai kejadian alam maha mengerikan diungkap untuk membahasakan keadaan ini.

Bahasa paling simpel membahasakan kiamat adalah, ketika planet-planet berbenturan.

Seperti diunggah pada surah al-Takwir, al-Infithar, al-insyqa dan lain-lain.

Dan pada surah kaji ini disebutkan, ’’al-qari’ah’’ digambarkan, bahwa para manusia berhamburan seperti laron yang semburat bertebaran, ’’yaum yakun al-nas ak al-farasy mabtsus.’’.

Sementara gunung-gunung pada berterbangan seperti kapas yang ditiup angin, ’’wa takun al-jibal ka al-‘ihn al-manfusy.’’

Maka kasihan sekali manusia yang hidup pada akhir zaman, yang menjumpai hari kiamat terjadi.

Disebutkan, bahwa manusia yang hidup zaman itu pada umumnya brengsek-brengsek, durhaka, mengumbar nafsu dan membelakangi agama.

Baca Juga: THE HORSE (31)

Sangat beruntung kita yang ditakdir hidup pada era sekarang ini.

Orang yang rumahnya dekat masjid, musala sesungguhnya mereka dipilih Tuhan dan difasilitasi agar lebih mudah, lebih terkondisikan dengan ibadah.

Setiap waktu mendengar azan dikumandangkan, bahkan menyaksikan salat berjamaah didirikan.

Perkara hatinya tergugah atau tidak, maka itu soal hidayah.

Aslinya, orang laki-laki itu salatnya di masjid, di musala, berjamaah di sana dan tidak ada pilihan.  Itulah laki-laki saleh. Sementara para wanita punya pilihan.

Jika memungkinkan salat berjamaah di masjid, seperti tidak ada kewajiban menjaga keluarga, anak dan rumah, maka salat berjamaah di masjid lebih baik.

Jika ada, maka salat di rumah lebih baik, meskipun salat sendirian. Jika ada laki-laki salat di rumah, itu namanya laki-laki yang ’’salehah.’’

Perhatikan para wanita di zaman nabi, bahkan diriwayatkan ada yang sampai i’tikaf di dalam Masjid Nabawi, hingga ngantuk-ngantuk.

Badannya diikat dengan kain ke tiang masjid agar tidak geblak, tidak terguling roboh.

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam memuji mereka sebagai hamba yang taat.

Sisi lain, beliau juga menyikapi ngantuk yang menimpa mereka : apakah wudunya batal atau tidak..?.

Jika dia dalam posisisi duduk tegak, pantatnya mapan, maka tidak membatalkan wudu.

Baca Juga: THE HORSE (28)

Ya, karena udara dari dalam tak bisa keluar, terkunci oleh posisi duduk yang rapat.

Lagian, masih terkendalikan oleh kesadaran. Tapi kalau sampai terguling atau ngorok-ngorok, atau terdengar suara kentut atau tercium baunya yang tak sedap, maka batal wudunya.

(bersambung, in sya’ Allah).

 

Editor : Achmad RW
#kiamat #al qariah