RadarJombang.id - Pengasuh PP Shofwanul Hikmah, Badas, Sumobito, KH Moh Roihan Sugondo, menjelaskan dua keutamaan suami daripada istri.
Hal itu disampaikannya saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Rabu (31/1).
’’Suami lebih utama dari istri karena dua hal,’’ tuturnya.
Sebagaimana dijelaskan dalam QS Annisa 34. Kaum lelaki menjadi pemimpin, mempunyai kekuasaan terhadap kaum wanita dan berkewajiban mendidik dan membimbing mereka.
Karena Allah telah melebihkan sebagian kamu atas lainnya, yaitu kekuasaan dan sebagainya.
Dan juga karena mereka telah menafkahkan atas mereka harta mereka. Maka wanita-wanita yang saleh ialah yang taat kepada suami mereka. Lagi memelihara diri di balik belakang.
Menjaga kehormatan mereka dan lain-lain sepeninggal suami karena Allah telah memelihara mereka sebagaimana dipesankan-Nya kepada pihak suami itu.
Pertama, karena suami diberi kelebihan dan kuasa untuk memimpin wanita.
’’Di sisi lain, ini menjadi kewajiban suami untuk mendidik dan membimbing istri dan keluarga,’’ terangnya.
Kedua, karena suami telah memberi nafkah kepada istri. Baik nafkah lahir maupun batin.
’’Ini juga menjadi kewajiban suami untuk memberikan nafkah,’’ tegasnya.
Baca Juga: Binrohtal 2.108, Tanda Seseorang yang Memegang Iman Hari Akhir
Jika suami telah menunaikan kewajibannya tersebut, maka istri wajib taat.
’’Suami yang baik, adalah yang memberi nafkah, mencukupi kebutuhan keluarga dengan rezeki halal. Serta mendidik dan membimbing istri dan anak-anak,’’ urainya.
Suami istri yang baik, akan melahirkan anak-anak yang baik.
Sebaliknya, istri yang baik, adalah istri yang taat kepada suami. Serta menjaga aib keluarga, agar tidak diumbar di depan orang banyak.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda;
Jika seorang wanita selalu menjaga salat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadan), menjaga kemaluannya dari perbuatan zina dan taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita tersebut,
’’Masuklah ke surga melalui pintu manapun yang engkau suka.’’
Kiai Roihan cerita, suatu hari Nabi Muhammad SAW didatangi seorang wanita. Wanita ini mengadu telah ditampar oleh suaminya.
Nabi lalu menjawab; Dia punya hak qisas. Yakni menampar balik si suami dengan kekuatan yang sama.
Namun jika dia memaafkan, maka itu lebih baik. Si istri tersebut akhirnya memaafkan suaminya.
Qisas dan memaafkan ini disebutkan dalam QS Asyura 40. Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa.
Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas tanggungan Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim. (jif/naz/riz)
Editor : Achmad RW