RadarJombang.id - Pengasuh PP Al Muhsinin, Tugu, Kepatihan, Habib Muhammad bin Salim Assegaf, menjelaskan banyaknya jalan kebaikan.
Hal itu disampaikannya saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Selasa (2/11).
’’Jalan kebaikan itu sangat banyak. Maka diri kita harus selalu disibukkan dengan kebaikan,’’ tuturnya.
Habib Muhammad cerita, suatu ketika ada sejumlah sahabat curhat kepada Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam.
Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah pergi dengan membawa pahala yang banyak. Mereka salat sebagaimana kami salat.
Mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa. Dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka.
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; Bukankah Allah SWT telah menjadikan bagi kalian jalan untuk bersedekah? Sesungguhnya setiap tasbih merupakan sedekah.
Setiap takbir merupakan sedekah. Setiap tahmid merupakan sedekah. Setiap tahlil merupakan sedekah. Mengajak pada kebaikan juga sedekah.
Melarang dari kemungkaran adalah sedekah. Bahkan berhubungan intim dengan istri kalian adalah sedekah.
Mereka bertanya; Wahai Rasulullah, bagaimana bisa salah seorang di antara kami melampiaskan syahwatnya lalu mendapatkan pahala di dalamnya?
Nabi bersabda; Bagaimana pendapat kalian seandainya hal tersebut disalurkan di jalan yang haram, bukankah akan mendapatkan dosa?
Baca Juga: Binrohtal 2.092, Sederet Menfaat Membaca dan Menikmati Alquran
Demikianlah halnya jika hal tersebut diletakkan pada jalan yang halal, maka ia mendapatkan pahala.
Hadis ini berisi penjelasan, orang miskin ghibtah (ingin berlomba) dalam kebaikan dengan orang kaya.
Mereka cemburu baik agar bisa meraih pahala seperti orang kaya yang mudah dalam bersedekah.
Maka Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan kepada mereka banyaknya jalan kebaikan yang mereka mampu kerjakan.
Allah SWT memudahkan kita untuk menempuh jalan kebaikan tersebut. Utamanya bagi setiap orang yang menginginkan berbuat baik, termasuk yang kaya dan yang miskin.
Sedekah ada yang bernilai manfaat kepada orang banyak (muta’addi) dan ada yang kemanfaatannya hanya pada diri sendiri (qasir).
Contoh yang bernilai qasir, bacaan tasbih (subhanallah), tahmid (alhamdulillah), takbir (Allahu akbar), tahlil (laa ilaha illallah).
Bacaan zikir ini ada yang wajib dan ada yang sunah. Contoh bacaan takbir yang wajib yaitu takbiratul ihram, Allahu Akbar.
Sedangkan zikir tasbih, tahmid, dan takbir pada zikir bakda salat dihukumi sunah. Contoh amalan yang muta’addi adalah amar makruf nahi mungkar.
Syarat amar makruf (menyuruh pada kebaikan), sudah punya ilmu mengenai hal yang makruf yang didakwahkan.
Serta mengetahui kalau orang yang didakwahi telah meninggalkan yang makruf.
Dalilnya, seseorang waktu salat Jumat masuk masjid sedangkan Nabi sedang khotbah.
Baca Juga: Binrohtal 2.089, Urip Mung Mampir Ngombe
Ia langsung duduk, lalu Nabi bertanya padanya, ’’Apakah Anda sudah salat?’’ Ia menjawab, ’’Belum.’’
Barulah Nabi berkata padanya, ’’Bangun dan salatlah dua rakaat dan persingkatlah.’’
Nabi tidak langsung menyuruhnya untuk mengerjakan salat dua rakaat, namun bertanya dulu apakah ia sudah melakukan salat ataukah belum. (jif/naz/riz)
Editor : Achmad RW