JOMBANG - Pendeta GPdI House of Prayer Sawahan, Jombang, Petrus Harianto STh, menyampaikan renungan menarik, kemarin. Terutama tentang pentingnya tenang menghadapi situasi apapun.
’’Dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu,’’ tuturnya mengutip Yesaya 30:15b.
Tak ada seorang pun yang hidup yang tidak pernah menghadapi masalah. Dan setiap kali ketika masalah itu datang, reaksi sebagian besar orang adalah panik, takut dan khawatir.
Bahkan kecenderungannya tak bisa menahan ucapan, tak bisa menjaga lidah untuk memperkatakan hal-hal yang negatif dan mengasihani diri sendiri.
Sementara firman Allah sudah memperingatkan, bahwa "Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi." (Amsal 10:19).
Artinya ucapan atau perkataan yang tidak dijaga, dapat membuat kita berdosa kepada Tuhan.
Kualitas hidup seseorang yang sesungguhnya akan terlihat dari kemampuannya dalam menguasai diri, tetap tenang dan menguasai perkataan.
Bagaimana dengan sikap kita saat menghadapi masalah atau pergumulan yang berat? Ada pepatah yang mengatakan bahwa diam itu emas.
Kata 'diam' yang dimaksudkan bukan berarti tidak mampu, masa bodoh atau menyerah pasrah, tapi mengacu kepada suatu sikap kehati-hatian dalam berbicara atau pun bertindak.
Jika kita tidak dapat mengatakan sesuatu yang baik, adalah lebih baik kita berdiam diri. Begitu pentingnya sikap berdiam diri sehingga orang bodoh pun "...akan disangka bijak kalau ia berdiam diri dan disangka berpengertian kalau ia mengatupkan bibirnya." Demikian yang dikatakan Amsal 17:28.
Seringkali tanpa disadari saat masalah datang menerpa, kita tidak bisa menahan ucapan. Kita mengeluh, bersungut-sungut dan mengomel, seperti yang biasa dilakukan bangsa Israel saat berada di padang gurun.
Hal itu menjadi pelajaran buat kita, karena bersungut-sungutlah yang membuat sebagian besar dari mereka tidak bisa masuk ke tanah perjanjian.
Kecuali Yosua dan Kaleb yang akhirnya menikmati tanah perjanjian, sebab mereka tetap tenang dan percaya janji Tuhan.
Keputusan untuk datang kepada Tuhan dan tinggal tenang itu mendatangkan kekuatan dan campur tangan Tuhan.
Hal ini dialami oleh salah satu jemaat kami beberapa waktu yang lalu. Di saat menghadapi persoalan dalam pekerjaan yang sangat berat, mereka langsung datang dan minta didoakan.
Puji Tuhan, dalam proses yang harus dihadapi ada ketenangan dan hikmat yang Tuhan berikan.
Tidak ada sungut-sungut atau mengeluh, sehingga semua bisa diselesaikan dengan cepat dan baik. Pertolongan dan mukjizat Tuhan dinyatakan.
Tuhan mengajarkan kita untuk bersikap tenang saat masalah datang menerpa: "Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa." (1 Petrus 4:7b).
’’Berdiam diri dengan mendekat kepada Tuhan membuat kita menjadi tenang. Dalam tinggal tenang itulah kekuatan kita. Tuhan Yesus memberkati,’’ tegasnya. (jif/riz)
Editor : Achmad RW