’’Itu tidak sesuai karena Nabi saja mau mendengarkan nasihat istri,’’ kata Dr Amrulloh Lc, saat menyampaikan materi pada kajian Ramadan yang digelar PSQ di Islamic Center Unipdu, Minggu (16/4).
Suatu ketika, Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam merasa diabaikan kaum muslimin usai perjanjian Hudaibiyah. Ketika itu, Nabi memerintahkan mereka untuk menyembelih hewan kurban dan memotong rambut dan kuku, meski batal mengunjungi tanah suci. Mereka tak menuruti nasihat Nabi.
Rasulullah pun menyampaikan hal itu kepada Ummu Salamah, istrinya. Apalagi Nabi sudah menyuruh mereka hingga tiga kali. Ummu Salamah lantas menasihati Nabi; Rasulullah SAW tak bisa membuat 1.500 orang untuk melakukan apa yang dia inginkan. Ummu Salamah lantas menyarankan Nabi SAW untuk melakukan ibadahnya sendiri di tanah lapang dan bisa dilihat semua orang.
Nabi SAW mendengar nasihat itu. Rasulullah mengambil ternak dan membawanya ke tempat terbuka. Rasulullah menyembelih hewan tersebut. Setelah itu, Nabi bercukur dan memotong kuku. Kaum muslimin yang menyaksikannya kemudian meng ikuti apa yang dilakukan Nabi.
Dalam QS Annisa 19 kita diperintahkan berhubungan dengan istri secara baik, makruf. ’’Ngajak musyawarah istri tapi sejak awal niat tidak untuk diikuti itu kan namanya nge-prank. Tentu ini tidak makruf,’’ bebernya. (jif/naz/fid) Editor : Achmad RW