Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Masjid Tua di Tapen ini, DIyakini Dibangun Murid Pangeran Diponegoro

Achmad RW • Jumat, 27 Januari 2023 | 14:56 WIB
Masjid Al Islah di Desa Tapen, Kecamatan Kudu ini diyakini dibangun prajurit Diponegoro
Masjid Al Islah di Desa Tapen, Kecamatan Kudu ini diyakini dibangun prajurit Diponegoro
JOMBANG – Masjid Jami’ Al Ishlah di Dusun/Desa Tapen, Kecamatan Kudu menjadi salah satu masjid tua di kecamatan setempat. Warga sekitar meyakini masjid sudah ada sebelum Indonesia merdeka. Pembangunan masjid dirintis Mbah Imam Rahmat, salah satu bala tentara Pangeran Diponegoro.

Lokasi Masjid Jami’ Al Ishlah strategis, lantaran terletak di pinggir Jl Raya Ploso-Gedek atau berdekatan dengan Sungai Brantas. Dari kejauhan tampak berdiri megah kubah masjid yang besar dengan warna kuning keemasan lengkap dengan menara di atasnya yang menjulang.

Selain itu, di gerbang masuk masjid, berdiri dua menara kembar semakin memudahkan orang menemukan keberadaan masjid ini. Bangunan Masjid Jami’ Al Ishlah luas dan memiliki dua lantai. Sehingga mampu menampung jamaah dalam jumlah besar.

Memasuki ke dalam masjid, udara terasa sejuk. Bagian dinding masjid mayoritas sudah terlapisi keramik. Selain itu, bangunan mihrab masjid yang megah dan indah dengan ukiran kaligrafi. Selain itu, mimbar masjid dari kayu terlihat kokoh dan bergaya klasik.

Ketua Takmir Masjid Al Ishlah Zainal Muttaqin mengatakan, Masjid Jami’ Al Ishlah sudah ada jauh sebelum Indonesia merdeka. ”Secara pasti kami tidak tahu tahunnya berapa, cuma dulu cerita orang-orang tua, di sini ada kayu dengan ukiran tahun arab, sebelum kemerdekaan sudah ada masjid ini,” kata Zainal kepada Jawa Pos Radar Jombang.

Sayangnya, kayu bertuliskan arab itu kini sudah tak ada lagi. Namun, warga sekitar percaya masjid megah ini sudah ada sejak dulu. ”Jadi peninggalan Mbah Imam Rahmat,” imbuh dia.

Dari cerita turun-temurun, sosok Mbah Imam Rahmat merupakan salah satu murid atau bala tentara Pangeran Diponegoro. ”Usai Pangeran Diponegoro ditangkap, waktu itu muridnya kocar-kacir dan menyebar. Salah satunya Mbah Imam Rahmat yang lalu syiar agama Islam di Kudu, istilahnya seng babat alas,” tutur Zainal.

Belum diketahui pasti, namun dari cerita yang berkembang, Mbah Imam Rahmat kemudian menyebarkan agama Islam di Kudu dan mendirikan masjid. ”Beliau dimakamkan di areal masjid,” bebernya.

Selain itu, sosok Mbah Imam Rahmat diketahui ada kaitannya dengan Masjid At Taqwa di Kota Mojokerto. ”Ternyata Mbah Imam Rahmat masih saudara dengan yang di sana. Itu diperkuat keluarga dari sana menelusuri Mbah Imam di sini. Kalau di Mojokerto itu Imam Muhammad, sementara di sini Imam Rahmat,” lanjut dia.

Bangunan masjid yang saat ini sudah berlantai dua merupakan bangunan 1990-an. Dulunya bangunan masjid masih sangat sederhana dan berlantai satu. ”Jadi saya masih kecil 1970 bangunan sudah dari tembok, ini yang kita pertahankan sampai sekarang. Tidak mengubah arsitektur atau ukurannya, termasuk desainnnya hanya mengganti pintu dan jendela,” lanjut dia.

Menurutnya, kala itu dinding masjid sudah dari tembok dan sangat tebal. ”Kalau orang sini bilang sen seteng, satu bata ini ditambahi lagi. Lalu direnovasi secara bertahap, baru jadi dua lantai 1992,” tutur Zainal.

Beduk dari Gelondongan Jati di Sungai Brantas

Masjid Al Ishlah di Dusun/Desa Tapen, Kecamatan Kudu juga memiliki cerita panjang. Di antaranya mimbar dari kayu merupakan bekas kubah. Salah satu beduknya juga bahannya didapat setelah adanya kayu jati yang terapung di Sungai Brantas.

Ketua Takmir Masjid Al Ishlah Zainal Muttaqin mengatakan, mimbar yang berada di sebelah tempat imam menjadi salah satu peninggalan saat kubah masjid dibongkar. Mimbar dari kayu itu merupakan bekas kubah. ”Jadi mimbar ini bekasnya kayu kubah, seingat saya dibuat 1990-an,” kata Zainal sembari menunjukkan mimbar.

Kondisinya saat ini lebih bagus. Sebab berwarna kecokelatan dan mengkilap. Di atasnya juga terdapat hiasan sembilan bintang. ”Untuk kursinya ini baru,” tutur dia.

Dikatakan, dulunya kubah masjid terbuat dari kayu. Tepatnya pada 1970-an. ”Waktu itu multifungsi, sebab juga jadi tempat azan. Karena waktu itu belum ada speaker, lalu naik ke atas dulu,” tutur Zainal.

Masjid itu juga memiliki dua beduk. Salah satunya beduk lawas berbentuk lebih kecil dengan beduk yang baru. Menurut Zainal, beduk itu juga memiliki cerita panjang. ”Secara pasti tahun berapa saya kurang tahu. Ini bawaan masjid lama, ceritanya dulu ada kayu jati terapung di Kali Brantas,” tutur dia.

Dikatakan, bagian tengah beduk yang terbuat dari kayu dipercaya warga setempat dulunya didapat setelah adanya kayu jati di Sungai Brantas. ”Lalu diangkat warga dan dibelah menjadi tiga bagian. Pertama di masjid ini (Al Ishlah Tapen), lalu potongan kedua dipakai masjid di Menturus, satunya di Katemas,” ujar Zainal.

Sayangnya, dalam perkembangannya, dari tiga potongan itu, sementara tersisa di Masjid Al Ishlah. ”Dua ini sudah tidak ada lagi, tinggal di sini,” kata Zainal. (fid/naz/riz) Editor : Achmad RW
#kudu #masjid tua #Jombang #utara brantas #rubrik rumah ibadah #masjid #tapen