Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Muhdi Surur, Langganan Juara MTQ, Rutin Minum Temulawak

Rojiful Mamduh • Minggu, 17 April 2022 | 14:38 WIB
Photo
Photo
Muhdi Surur Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikmah Tahfidzul Quran Bendungrejo Jogoroto punya banyak pengalaman di bidang tilawah. Masa kecilnya, ia habiskan untuk belajar Alquran, mendalami isi dan melantunkan dengan nada-nada indah.

”Satu keluarga saya kebetulan memiliki bakat suara bagus untuk melantunkan Alquran, saya sendiri termotivasi kakak-kakak,” kata anak ke-8 dari 9 bersaudara ini. Hidup berdampingan dengan keluarga yang memiliki bakat tarik suara Alquran, membuatnya semakin termotivasi. Utamanya kakak ketiga yang sering wara-wiri ikut lomba Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ).

Saat kelas 4 SD, keinginannya belajar dimulai dengan memutar kaset pita yang ada di rumahnya. Memelajari dan menekuni beberapa maqra. Bekal beberapa maqra yang ia pelajari tersebut ia tashihkan kepada ayahnya H Muh Romli. Dengan bekal beberapa maqra itu pula dia ikut kompetisi pertama 1998 saat berusia 11 tahun.

Lomba pertamanya dia ikuti di tingkat kecamatan, yaitu di Kecamatan Mantup, Kabupaten Lamongan. Pada kompetisi pertama itu ia bisa meraih juara 1. Setelah itu diikutkan lomba tingkat kabupaten dan kembali meraih juara 1. Tak hanya di Lamongan, Surur juga mengikuti lomba-lomba serupa di Kabupaten Gresik. Mewakili Kecamatan Balongpanggang. ”Karena ayah saya dinas di Gresik, makanya saya bisa ikut Kabupaten Gresik,” kata bapak dua anak ini.

Mewakili Kabupaten Gresik, ia mengikuti MTQ tingkat provinsi di Batu Malang. Sayang, kompetisi tingkat provinsi pertama itu belum berhasil menjadi juara. ”Lalu ada yang menasehati kalau belajar tilawah harus memiliki guru, kemudian saya mondok di Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas,” jelas pria kelahiran Jombang, 10 Oktober 1896 ini.

Di sana, ia belajar tilawah bersama guru-guru yang hingga kini menjadi tokoh favoritnya. Yaitu ayahnya sendiri, H Muh Romli, KH Moh Thoha Hasan dari Gresik, KH Muhammad Fuad dari Surabaya, KH Abd Hamid Abdullah dari Surabaya, serta KH Hasyim Yusuf dari Tambakberas.

Kompetisi tingkat nasional pertama diikutinya dengan mewakili Kabupaten Jombang, di Mataram Nusa Tenggara Barat 2002 lalu. Ia bahkan berhasil meraih juara 2. Sebelumnya, Surur juga malang-melintang di MTQ tingkat nasional di Banjarmasin, Jakarta dan Bengkulu. ”Alhamdulillah itu semua berkat support dari guru-guru saya,” ungkap putra pasangan H Muh Romli dan Hj Siti Zulaikha ini.

Tahun 2014 ia memutuskan menetap di Jombang dengan menikahi Naily Maslahah, dan menetap di Desa Bendungrejo, Kecamatan Jogoroto. Ia pun masih melekat dengan keluarga besar Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas. ”Saya dulu sempat ingin merantau ke Jawa Barat untuk mengembangkan dan memperbaiki kualitas suara, tapi sama guru tidak diizinkan, hingga akhirnya saya menetap di Jombang," urainya.

Hingga kini, Surur masih mengajar tilawah di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas. Untuk menjaga kualitas suaranya, ia rutin mengonsumsi temulawak. Menurutnya, untuk menjaga stamina dengan rempah-rempah sangat penting. Karena suara yang ia keluarkan bergantung dari staminanya.

”Beberapa tahun ini saya rutin konsumsi temulawak untuk menjaga kebugaran. Karena kalau bugar pasti suara juga mendukung. kunci utamanya pada kesehatan,” kata dia. Lebih dari itu, ia juga tak pernah melupakan kegiatan olah vokal,  dengan latihan sebagai guru tilawah. Ia juga masih rutin latihan di rumah setelah salat subuh.

Hanya saja, latihan rutin yang dilakukannya tidak se-intens dulu, saat usianya masih produktif prestasi tilawah. ”Sekarang sudah tidak bisa mengikuti MTQ, usianya sudah bukan usia lomba, latihan juga tidak sepanjang dulu,” katanya. sekarang ia sering menjadi juri dalam berbagai lomba MTQ baik tingkat kabupaten maupun nasional.

Menurutnya, latihan olah vokal dilakukan sebagai bentuk syukur karena sudah diberi karunia suara yang indah untuk melantunkan Alquran. Sehingga harus dijaga dan dirawat dengan cara latihan.

Surur juga sempat aktif sebagai vokal Banjari. Hanya saja oleh guru-gurunya, Surur pernah diberi teguran karena ilmu salawat Banjari dengan ilmu tilawah berbeda. Ada beberapa temannya yang terlalu sering ikut banjari sehingga khas cengkok tilawahnya hilang, karena memang ilmunya berbeda. "Jadi harus menekuni salah satu, Insya Allah saya salurkan kepada anak-anak didik,” pungkas dia.

 

Photo
Photo
Editor : Rojiful Mamduh
#Rutin Minum Temulawak #Muhdi Surur #Langganan Juara MTQ