Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Binrohtal 1.380: Keseimbangan Dunia Akhirat

Rojiful Mamduh • Rabu, 9 Maret 2022 | 15:40 WIB
KH Moh Khairil Anam Denanyar
KH Moh Khairil Anam Denanyar
Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Selasa (8/3), KH Khairil Anam Denanyar menjelaskan pentingnya keseimbangan dunia dan akhirat. ’’Antara urusan dunia dan akhirat hendaknya seimbang. Jangan hanya fokus pada urusan dunia saja, dan juga jangan fokus pada urusan akhirat saja,’’ tuturnya.

Sebagaimana dijelaskan dalam QS Alqasas 77. Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari kenikmatan duniawi. Dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Juga dalam QS Albaqarah 201. Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.

’’Ada trik agar bisa fokus pada kedua-duanya, dunia dan akhirat,’’ kata Gus Anam. Triknya yakni, ketika sedang sibuk dengan urusan dunia, maka niatilah dengan niat yang baik sehingga bernilai akhirat.

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Banyak amal yang bentuknya amal akhirat, namun karena buruknya niat menjadi tak berpahala di akhirat. Sebaliknya, banyak amal yang bentuknya seperti amal dunia, namun karena bagusnya niat, menjadi berpahala akhirat.

’’Imam Hasan Al Bashri berkata; Barang siapa mementingkan urusan dunia dan mengalahkan urusan akhirat, maka akan merasakan tiga akibat di dunia,’’ jelasnya.

Pertama, panjang angan-angan. Panjang angan menjadikan seseorang lupa akan akhirat. Panjang angan-angan menyebabkan buruk amal. Panjang angan-angan  itu memutuskan setiap kebaikan.  Panjang angan membuat kita menunda-nunda tobat. ’’Nanti sajalah aku bertobat. Hari-hariku masih panjang, aku masih muda, usiaku baru sedikit.’’ Padahal bisa jadi, ajal menjemput secara tiba-tiba. Sebagaimana disebutkan dalam QS Al A’raf 34. Dan setiap umat mempunyai ajal. Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.

Orang yang panjang angan dan menunda tobat, saat ajalnya tiba, ia masih berbuat dosa dan belum sempat memperbaiki amalnya.

Kedua, serakah. Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Manusia ketika punya satu lembah emas, pasti ingin yang kedua. Punya dua, pasti ingin tiga. Mulut manusia tidak akan puas hingga disumpal tanah kuburan.

Ketiga, kehilangan nikmat ibadah. Orang yang hanya memikirkan dunia, pasti tak bisa merasakan kenikmatan. Hanya orang khusyuk yang bisa menikmati ibadah. Orang khusyuk yakni selalu ingat bahwa dirinya akan kembali menghadap Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana ditegaskan dalam QS Albaqarah 45-46.

Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. Yaitu orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. Editor : Rojiful Mamduh
#masjid polres jombang #Binrohtal