Ustad Yusuf juga mengutip QS Addukhan 3. Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi yaitu malam pertengahan bulan Syakban. Pada malam tersebut diturunkanlah Alquran dari umul kitab atau Lohmahfuz. Yaitu dari langit yang ketujuh hingga ke langit dunia.
Ustad Yusuf lalu menyampaikan cerita dari Muhammad bin Abdullah Az Zahidi. Dia punya kawan bernama Abu Hafsh Al-Kabir yang meninggal dunia.
Azzahidi lalu mensalati jenazahnya. Dia tidak menziarahi kuburnya selama delapan bulan. Kemudian dia menziarahi kuburnya. Malam itu dia tidur, lantas bermimpi melihat Abu Hafsh berubah. Wajahnya menjadi pucat. Azzahidi pun mengucapkan salam kepadanya, tapi dia tidak menjawab. Azzahidi lantas bertanya; Subhanallah, kenapa kamu tidak menjawab salamku?
’’Menjawab salam adalah suatu ibadah, sedang kami diputuskan daripada ibadah,’’ kata Abu Hafsh.
Azzahidi kemudian bertanya: Kenapa saya lihat wajahmu berubah pucat, padahal parasmu dulu sangat tampan?
Abu Hafsh menjawab: Setelah aku diletakkan di dalam kubur, seorang malaikat datang lalu berdiri di atas kepalaku seraya bekata: Hai orang yang buruk. Lalu disebutnya seluruh dosa-dosaku dan keburukan perilakuku. Lalu aku dipukulnya dengan sebuah tiang, maka jasadku menyala menjadi api.
Kemudian kuburku berbicara kepadaku; Tidakkah engkau malu terhadap Tuhanku?
Aku dihimpit kuburku. Sekali himpit, sampai tercerai berai rusuk-rusukku dan putuslah seluruh persendianku. Aku tetap tersiksa sampai pada suatu malam di mana hilal bulan Syakban terbit. Tiba-tiba ada yang berseru dari atasku: Hai malaikat, lepaskan dia. Sesungguhnya dia telah menghidupkan suatu malam pada bulan Syakban semasa hidupnya, dan berpuasa sehari di antara hari-hari bulan itu.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala melepaskan siksaanku dengan kehormatan salatku pada suatu malam di bulan Syakban. Serta puasaku sehari di bulan Syakban. ’’Kemudian Dia memberi kabar gembira kepadaku akan memperoleh surga dan rahmat,’’ kata Abu Hafsh.
Inilah sebabnya, Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam senang memperbanyak puasa di bulan Syakban. Sampai-sampai diceritakan, Rasulullah paling banyak berpuasa sunah dalam satu bulan adalah di bulan Syakban. Editor : M Nasikhuddin