JOMBANG - DI tengah cuaca yang tak menentu, Susilo Edi Cahyono, pengusaha kerupuk asal Desa Segodorejo, Kecamatan Sumobito, tetap mampu meraup omzet jutaan rupiah setiap harinya.
Dalam kondisi normal, ia bisa memproduksi kerupuk hingga 2,5 kwintal per hari. Namun, belakangan produksi terpaksa dikurangi karena sering turun hujan.
’’Kalau cuacanya cerah, saya bisa produksi sampai 2,5 kwintal kerupuk dalam sehari. Tapi sekarang sering hujan, jadi produksi kami turunkan sedikit. Soalnya kerupuk ini sangat bergantung sama panas matahari,’’ katanya saat ditemui di rumah produksinya.
Proses pengeringan kerupuk merupakan tahap paling krusial. Ia memilih tetap mengandalkan sinar matahari ketimbang menggunakan oven modern. ’’Pakai oven bisa saja, tapi biayanya besar. Selain itu hasil kerupuknya juga beda, kurang renyah. Jadi kami lebih nyaman pakai cara tradisional,’’ imbuhnya.
Baca Juga: Bupati Warsubi Kagum Kreasi UMKM Wonosalam Jombang: Ada Kopi Salak Hingga Batik Swargaloka
Dalam sehari, Susilo mampu menghasilkan omzet sekitar Rp 5 juta dari penjualan kerupuk mentah maupun kerupuk yang telah digoreng. ’’Kalau kerecek mentah, kami jual Rp 15 ribu per kilogram. Sedangkan yang sudah digoreng harganya Rp 29 ribu per kilogram,’’ jelasnya.
Meski biaya produksi meningkat saat musim hujan, pihaknya berusaha tetap mempertahankan kualitas dan rasa. ’’Yang penting pelanggan puas. Lebih baik produksi sedikit tapi kualitasnya tetap terjaga,’’ ungkapnya.
Kerupuk produksinya dipasarkan ke berbagai daerah di Jombang dan sekitarnya. Bahkan beberapa pedagang luar kota sudah menjadi pelanggan tetap. ’’Alhamdulillah, meskipun cuaca tidak menentu, permintaan tetap ada,’’ ucapnya. (yan/jif)
Editor : Anggi Fridianto