RadarJombang.id – Seorang pria di Desa Gedangan, Kecamatan Mojowarno berhasil meraup cuan jutaan rupiah dari produksi arang.
Salah satu rahasianya sukses produksi arang, adalah dengan memilih bahan baku dari kayu berkualitas.
Selama 14 tahun produksi arang yang dilakukan pria di Jombang ini juga tembus pasar luar Jombang.
Halaman rumah milik Rusmanto, 40, perajin arang dijadikan tempat produksi sejak 2010 lalu. Ada empat tungku pembakaran di lokasi itu.
”Pembakarannya kan memang lama, jadi butuh banyak tempat supaya produksinya juga bisa banyak dan terus,” ungkapnya.
Rusmanto, biasanya menggunakan bahan kayu mangga untuk arang produksinya. Atau jika tak ada, alternatifnya adalah kayu asam.
Kedua kayu itu, disebutnya lebih ulet saat dilakukan pembakaran hingga tak akan banyak timbul ledakan.
”Kayunya dipilah dulu, biasanya terus digergaji dan dipotongi, baru kemudian dimasukkan tungku,” ungkapnya.
Proses pembakaran arang, juga berlangsung sangat lama. Paling tidak, arang baru bisa dipanen sepenuhnya setelah menjalani 10 hari pembakaran.
”Kalau sudah 10 hari, baru dibongkar terus disiram, kemudian baru dipisahi dan dibungkus,” ungkapnya.
Untuk satu tungku, ia menyebut hasilnya juga sudah cukup besar. Dalam sekali pembakaran, bisa menghasilkan 30 karung besar arang ukuran 50 kilogram.
”Satu tempat pembakaran, kurang lebih menjadi 30 karung arang,” jelasnya.
Harga arang hasil keuletan tangan Rusmanto ini sangat murah. Dia hanya membandrol Rp 70.000 per karung.
”Penjualan Rp 70.000 per satu karung dengan ukuran 50 kilogram,” pungkasnya.
Penjualan Melonjak Jelang Momen Tertentu
MENJADI produsen arang, bagi Rusmanto memang pekerjaan yang bisa ditekuni.
Meski sudah punya pelanggan tetap, ia menyebut produksinya akan meningkat menjelang momen tertentu.
”Sebenarnya produksi setiap hari, tapi tidak banyak. Paling 1 tungku saja, karena kan harian itu pelanggan biasa mengambil 3-4 karung sajam,” ungkapnya.
Namun, saat momen khusus datang, ia harus memproduksi lebih banyak. Seperti saat momen tahun baru atau menjelang Idul Adha.
Dua momen itu, memang membuat banyak orang membutuhkan arang untuk bakar-bakar.
”Kalau pas ramai seperti lebaran Idul Adha kemarin bisa sampai 10 harung per orang mengambilnya setiap hari, jadi produksinya harus ditambah,” pungkasnya. (riz/fid/riz)
Editor : Achmad RW