JOMBANG – Tempe bukan hanya cocok untuk jadi hidangan pelengkap menu makan keluarga. Namun, juga gurih dan renyah saat dibuat camilan keripik.
Melihat potensi pasar yang lumayan besar, sebagian warga mengembangkan usaha pembuatan keripik tempe.
Salah satunya digeluti Imroatus Solihah, 50, warga Dusun Canggon, Desa Ngudirejo, Kecamatan Diwek. ”Saya mulai merintis usaha keripik tempe sekitar 2018,” terangnya.
Imroatus awalnya hanya menekuni usaha warung makan. Untuk menambah pemasukan, ia mencoba peruntungan dengan membuat keripik tempe.
“Jadi awalnya itu coba-coba saja, ternyata waktu jadi, hasilnya bagus, dan banyak yang suka, jadi ya diteruskan sampai sekarang,” ungkapnya.
Untuk membuat keripik tempe, ia sangat terbantu dari usaha adeknya yang merupakan perajin tempe.
Hanya saja, tempe-tempe itu ia olah lebih dulu sebelum diproses menjadi keripik tempe.
”Yang membuat tempenya ini adik saya, terus saya ambil, tapi tidak bisa langsung digunakan,” lanjutnya.
Tempe itu, disebutnya harus dicampur dahulu dengan tepung kanji, untuk menambah tekstur beda dalam olahan keripik nanti.
Setelahnya, didiamkan hingga tiga hari, hingga seluruhnya siap diproses.
”Setelah tempe jadi, baru kemudian diiris-iris tipis, dan tidak boleh langsung digoreng, didiamkan dulu 10 menit di kulkas,” lontarnya.
Baca Juga: Pria Jombang ini Sukses Budidaya 20 Varietas Anggus Impor, Cuannya Bikin Ngiler
Setelah waktu cukup, ia pun memulai penggorengan keripiknya.
Sebelum dimasukkan ke minyak panas, irisan tempe harus dicelupkan dulu ke dalam air yang sudah diberi bumbu.
Tujuannya, tentu saja untuk memberi rasa pada keripik buatannya.
“Bumbunya ya garam, bawang putih sama penyedap rasa saja,” imbuhnya.
Dalam sehari, Imroatus bisa memproduksi hingga 2 kilogram tempe. Produknya itu, biasa ia jual ke sejumlah warung kopi hingga dijual secara online.
”Kalau ke warung itu biasanya kemasan kecil, yang harganya Rp 1 ribu hingga Rp 2 ribu. Kalau untuk online, ukurannya lebih besar, ada yang ¼ kilogram, ada juga yang 1 kilogram. Harganya itu Rp 60 ribu untuk tiap 1 kilogram,” pungkasnya.
Jumlah Produksi Dipengaruhi Musim
PRODUKSI keripik tempe yang digeluti Imroatus Solihah sangat terpengaruh dengan musim.
Misalnya saja, saat harga kedelai tengah tinggi, ia terpaksa harus mengurangi produksi keripik yang dibuatnya.
”Waktu kedelai tinggi itu sampai cuma produksi 1 kilogram saja sehari, karena sepi, harganya naik semua,” terang Imroatus.
Maklum, bahan baku pembuatan keripik tempe memang kedelai yang harganya akan sangat berpengaruh pada harga produksi keripiknya pula.
Namun, produknya itu juga akan melonjak drastis di momen-momen tertentu.
Imroatus menyebut, keripik tempenya itu biasanya akan jadi primadona ketika menjelang hari raya Idul Fitri.
”Wah kalau mau Lebaran itu melonjaknya besar-besaran, sampai sehari itu harus bikin 10 kilogram juga,” pungkasnya. (riz/naz/riz)
Editor : Achmad RW