Seperti yang dirasakan Adi Santoso, pembuat lampion karakter di Desa/Kecamatan Mojowarno. Sejak awal Ramadan, ia dan keluarganya tak pernah berhenti membuat lampion. ’’Pesanan sedang banyak, kenaikannya empat kali lipat dari hari biasa,’’ ucap Adi saat ditemui di rumahnya.
Lampion karakter buatannya spesial dibuat untuk perayaan takbiran malam Idul Fitri. Ia ngebut membuatnya karena prosesnya cukup panjang. Lampion berbahan dasar kertas, botol plastik, spons dan lampu kecil.
Proses awalnya membuat gagang. Gagang lampion terbuat dari kertas yang dibentuk melingkar dan memanjang. ’’Proses pembuatan gagang ini yang paling lama, karena butuh ketelatenan,’’ lontarnya.
Tangkai berbentuk kerucut harus benar-benar dibuat sangat padat agar tak mudah bengkok. Setelahnya, tangkai kerucut yang sudah terbentuk harus direndam dengan larutan lem. Kemudian dijemur hingga kering.
’’Ini agar tangkainya keras dan tidak mudah lembek. Karena bahan dasarnya kertas,’’ lanjutnya. Setelah benar-benar kering, barulah tangkai dihias. Ia menggunakan kertas warna-warni untuk hiasan penutup.
Setelah bagian tangkai jadi, barulah ia membuat bagian utama lampion. Yakni lampu dan wadahnya. Untuk tabung lampion, Adi menggunakan botol plastik aneka bentuk. ’’Ada yang bentuk botol biasa, ada juga yang bentuk bohlam,’’ ucapnya.
Botol dipasang terbalik. Bagian bawah botol ditancapkan di bagian atas tangkai. Sementara bagian bawahnya, dilubangi untuk dimasuki lampu. Adi menggunakan beberapa jenis lampu berbentuk gantungan kunci dan memiliki aneka karakter. ’’Ada yang bentuk doraemon, bentuk kapal jet dan lainnya,’’ imbuhnya.
Setelah itu, barulah bagian atas lampu dihias. Ia menggunakan spons eva atau spons topi. Spons digunting membentuk pola-pola yang sudah dibuat lalu ditempelkan. Lampion pun siap dijual. ’’Bentuknya macam-macam. Yang jelas harus warna-warni dan temanya anak-anak, karena yang beli kan anak-anak,’’ tambahnya.
Dikirim hingga Luar Kota
MESKI terlihat sederhana, lampion tongkat karakter buatan Adi dan keluarganya laku keras. ’’Untuk penjualan, sementara masih melayani grosir,’’ terangnya. Itupun dia sudah kewalahan. ’’Rebutan juga yang pesan,’’ katanya.
Apalagi harganya sangat terjangkau, Rp 9.000. Penjualannya pun dilakukan secara daring. Adi, menggunakan akun media sosial untuk pemasaran. ’’Pemesan yang banyak dari Jombang sendiri, Batu, Tuban, Lamongan sampai Jember. Dikirimnya melalui paket nanti,’’ bebernya.
Omzetnya pun melonjak drastis. Ia mengaku bisa meraup Rp 4-5 juta selama Ramadan. ’’Pesanannya ribuan. Ini masih 1.500 yang menunggu antrean diambil. Makin dekat Lebaran juga masih akan banyak pesanan lagi,’’ ungkapnya. (riz/jif/riz) Editor : Achmad RW