Pembuatan telur asin dilakukan di halaman samping rumahnya. Sebuah gubuk dengan penutup sengaja dia bangun untuk proses produksi.
’’Bahan baku tidak pernah kesulitan. Dari ternak saya sendiri ada. Kalau masih kurang, bisa mengambil dari tetangga, di sini banyak peternak bebek petelur,’’ ungkapnya.
Telur bebek yang ia gunakan, jenis telur bebek berwarna biru. Meskipun sebenarnya bisa juga menggunakan telur bebek putih. ’’Telur bebek putih kalau dijual tidak terlalu bagus,’’ lontarnya.
Prosesnya dimulai dari mencuci telur bebek yang baru datang. Pencucian, berguna untuk menghilangkan kotoran yang melekat pada cangkang telur. Setelah itu dikeringkan. ’’Pengeringan cuma butuh waktu beberapa menit saja, yang penting telurnya kering,’’ jelasnya.
Setelah itu, proses pengasinan dimulai. Metode yang ia pakai cenderung berbeda dengan pengasinan telur pada umumnya. ’’Biasanya kan pakai tanah liat atau remukan bata yang dicampur garam. Kalau saya cuma pakai air garam saja,’’ bebernya.
Hajir memakai air yang dicampur garam kasar atau garam grosok. Menurutnya, dengan proses itu pengasinan akan lebih mudah dilakukan. Hasilnya juga tak kalah dengan cara lama yang menggunakan remukan bata.
’’Hasilnya tetap bagus walaupun cuma pakai air garam. Dan lebih singkat, tidak terlalu makan waktu dan tenaga,’’ imbuhya.
Dengan proses ini, pengasinan hanya membutuhkan waktu maksimal enam hari sampai telur bisa dipanen. Kondisi telur juga tak kotor seperti jika memakai remukan bata. Air garam, juga bisa langsung dibuang dan diganti baru.
’’Kalau pakai remukan bata prosesnya sampai 10 hari, terus nanti setelah jadi remukannya harus dijemur lagi, terus telurnya harus dicuci lagi,’’ tambahnya.
Setelah seluruh proses dilewati, telur asin buatannya siap direbus. Meski hanya dikerjakan berdua bersama istri, ia mengaku bisa memproses hingga 600 butir telur per hari.
Ia menjual telur ini ke sejumlah pasar di Kabupaten Jombang. ’’Di Pasar Peterongan, Sumobito, Kesamben dan Keboan. Juga ada beberapa pedagang yang mengambil,’’ paparnya.
Setelah jadi telur asin, harga yang diperoleh menjadi lebih tinggi. ’’Kalau tidak diasin, per butir biasanya Rp 2.300, tapi kalau sudah diasin harganya bisa Rp 2.700. Itupun bisa awet hingga 7 hari,’’ tegasnya.
Jadi Pengusaha Telur Asin karena Covid-19
SEBELUM jadi pengusaha telur asin, Hajir dan istrinya, Hermin Renowati, 44, sudah lama jadi peternak bebek petelur. Wabah Covid-19 memaksanya mengubah jalan hidup.
’’Saya jadi peternak sudah lama, sejak 1997, selama jadi peternak ya jualnya telur mentah saja, waktu itu juga lancar,’’ ucapnya.
Pada 2020, penjualannya babak belur. Tak banyak lagi orang mencari telur bebek. Banyak tengkulak yang berhenti dan tak lagi mengambil telurnya. ’’Sempat ribuan telur waktu itu tidak laku, dan bingung mau diapakan,’’ ungkapnya.
Ia pun mencoba jalan baru dengan mengasinkan telur. Hasilnya, ia jual ke beberapa pasar. ’’Awalnya dulu cuma titip saja, uang belakangan, karena saya yang butuh, tapi tidak apa-apa daripada tidak laku,’’ tambahnya.
Usahanya mendapat sambutan yang lumayan. Pesanan mulai berdatangan. Namun, masalah kembali datang, yakni penutupan pasar karena pandemi hingga serbuan telur asin dari luar kota. ’’Sempat merasakan pasar tutup, terus mulai buka diserbu sama pedagang telur asin dari Blitar, harganya lebih murah lagi,’’ rincinya.
Ia pun harus memutar otak untuk menjaga produknya tetap laku di pasaran. Hingga akhirnya, ia menemukan satu ciri produknya yang masih ia pertahankan hingga kini. Yakni telur asin fresh, atau baru matang.
’’Akhirnya bisa menang karena kita jualnya telur saat masih panas, masih hangat. Kita bisa membuktikan sampai pasar telur ini baru diproses. Beda dengan produk Blitar yang sudah dingin saat di pasar,’’ ucapnya.
Hingga kini, ciri khas itu ia gunakan sebagai salah satu jaminan produknya. Hajir selalu memastikan telur asin buatannya sampai di pasar dalam kondisi panas atau hangat dan menjamin kualitasnya selalu baru. ’’Itu saya pertahankan sampai sekarang,’’ tandasnya. (riz/jif/riz)
Editor : Achmad RW