Ada yang menarik saat mampir di rumah sederhana RT 01/ RW 01 Kelurahan Kaliwungu, beberapa waktu lalu (24/4). Beberapa dompet dan tas terbuat dari sak semen maupun kain perca. Barangnya tak kalah menarik dengan tas pabrikan. Sebab, ada cap motif dedaunan yang menempel pada kulit tas.
Ya, hasil kreasi Wismaning Setyo itu mengombinasikan barang tak terpakai dengan teknik pewarnaan ecoprint. Sejak 2012 lalu, berbekal pelatihan dan workshop yang diadakan organisasi peduli lingkungan, ia mulai membuat dompet. "Awalnya coba-coba, kadang jadi kadang tidak, namun lambat laun berjalan akhirnya menjadi seperti ini," ujar dia.
Ia sengaja menggunakan bahan tak terpakai seperti sak semen dan kain perca. Selain lebih ekonomis, hal itu dilakukan sekaligus untuk edukasi kepada masyarakat bagaimana cara mengolah benda bekas menjadi barang bernilai tinggi. "Ada tas dan dompet dari sak semen, ada sepatu dari kulit domba, ada pula baju dengan motif ecoprint," jelasnya.
Proses pembuatannya dimulai dengan memilah bahan yang akan digunakan. Kemudian, berlanjut dengan teknik pewarnaan ecoprint. “Pertama scouring untuk menghilangkan lilin pada kain. Dilanjutkan dengan mordanting, supaya kain bisa menerima zat pewarna alami,’’ beber dia.
Setelah itu, baru di-printing menggunakan dedaunan. Beberapa daun yang bisa dimanfaatkan untuk ecoprint adalah jati, daun lanang, jambu biji dan daun singkon. ”Tak semua daun bisa dijadikan ecoprint, karena meski memiliki corak bagus, beberapa daun tidak bisa menempel atau tidak cocok,’’ jelas dia
Setelah jadi, proses terakhir adalah steaming atau pengukusan dengan membutuhkan waktu sekitar dua jam. ”Nah, setelah jadi baru kita proses menjadi tas, dompet dan lain-lain sesuai keinginan,’’ jelasnya lagi.
Soal harga jual, ia menyebut bervariatif menyesauikan bahan dan tingkat kesulitan pembuatan. Misalnya, kain ecoprint sepanjang 2 meter dijual dengan Rp 250 – Rp 300 ribu, kemudian sepatu kulit domba Rp 300 ribu. ”Ada juga baju Rp 150 ribu dengan bahan kain katun. Jadi memang menyesuaikan bahan,’’ tandas dia.
Sistem penjualannya selama ini ia memanfaatkan jejaring online. Beberapa hasil kreasinya juga ia taruh di gerai miliknya. ”Kebanyakan saya pasarkan lewat media sosial,’’ pungkas Wismaning. Editor : Achmad RW