Di rumah yang terletak di Dusun Jombang Krajan, pasutri Nur Kholifah, 40, dan Roni Purwanto, 40, mengembangkan usahanya membuat tumpang dari jajanan pasar. Saat Ramadan, produknya laris manis dipesan pelanggan. ”Kalau pas tidak bulan Ramadan, setiap hari buat untuk dijual di pasar, tapi kalau di bulan Ramadan ini cuma buat pesanan saja," ungkap Ifa, sapaan akrabnya.
Dia menjelaskan, seluruh jajanan tradisional dia buat sendiri dibantu suami. Di antaranya, klanting, klepon, sawut, tiwul, ijo-ijo, puro, gethuk, mata roda, lupis. ”Semua buat sendiri, makanya biasanya proses mulai sejak malam hari sampai pagi," lanjutnya.
Karena hasil olahan tangannya sendiri, dia pun bisa menjamin dan mengontrol kualitas rasanya. Karena itu, untuk memesan tumpeng jajanan tradisional ini, konsumen diwajibkan memesan jauh-jauh hari. ”Pesannya itu, H-1, atau H-2. Tergantung dari jenis jajanan yang dipesan. Kalau yang tumpeng jajanan puro, itu pesannya harus H-2, karena pembuatannya agak lama,” ucapnya.
Untuk isi tumpeng, pemesan bisa memilih sesuai selera. Saat didatangi Jawa Pos Radar Jombang kemarin, Ifah tengah membuat pesanan tumpeng kecil berisi lima macam jajanan. "Ini isi lima, ada klanting, klepon, lupis dan mata roda untuk isian pinggir. Untuk bagian gunungannya pakai sawut. Tapi ada juga yang isi 10 macam, itu lebih lengkap dan besar lagi, " imbuhnya.
Harganya pun cukup bersahabat. Untuk tumpeng isi lima jenis jajan pasar, biasa dijualnya seharga Rp 150 ribu, sementara untuk isi 10 macam jajan, dipatok harga Rp 300 ribu. "Itu sudah bisa dimakan untuk lebih 15 orang,” lontarnya.
Selama Ramadan tahun ini, ia mengaku cukup kuwalahan melayani pesanan yang datang. Terlebih pada momen akhir pekan. "Banyak yang pesan untuk takjil atau bukber (buka bersama),” tambahnya. Editor : M Nasikhuddin