Hal ini, lanjut Nanik didukung bukti keberadaan lukisan dinding atau lieng yang berada di kanan kiri altar yang berangka tahun 1844.
Nanik menjelaskan, kelenteng ini dibangun sejumlah perantau dari Cina selatan. Para perantau ini, adalah pedagang yang datang dengan kapal menuju pulau Jawa hingga menempati wilayah Gudo yang saat itu dikenal sebagai wilayah yang subur. ”Sampai imigran bertambah banyak dan mendapatkan tanah di lokasi ini,” lanjutnya.
Namun, bukti lain yang lebih kuat, adalah adanya bukti surat pengurus kelenteng di abad ke-20, yakni tahun. Menurutnya, hal itu menunjukkan jika kelenteng ini sudah berdiri lebih mapan. ”Di abad ke-20 awal itu kita sudah ada pengurus, sudah ada beberapa kesenian juga,” tambahnya.
Seperti kelenteng pada umumnya, Hong San Kiong ini juga dibangun dengan warna utama merah dan emas, sebagai simbol kebahagiaan, kemakmuran juga keagungan. Bangunan yang menghadap ke utara ini, Gerbang depan kelenteng, terlihat dijaga dua patung Qilin.
Qilin sendiri merupakan mahluk mitologi Cina yang sering kali dianggap membawa pertanda baik dan kemakmuran. Pada tiang-tiang kelenteng, terdapat ornamen patung naga hijau dan burung hong atau phoenix yang melambangkan unsur Yin dan Yang sebagai bentuk keseimbangan.
Di kelenteng ini, ada tiga dewa yang dipuja, yakni Dewa Kong Tik Tjoen Ong, Dewa Hian Thian Siang Tee dan Dewa Hok Tik Tjien Sien. Sementara di bagian belakang kelenteng ini, terdapat pula kuli Kwan Iem. ”Namun yang jadi tuan rumah atau dewa utama, adalah Kongco Kong Tjik Tjoen Ong itu,” pungkasnya Editor : Rojiful Mamduh