RadarJombang.id - Muhamad Agil Al Hakim, adalah satu dari banyak pemuda Jombang yang kini aktif berkuliah di mesir.
Keilmuan para masyayikh Mesir yang dalam soal agama, membuat bersemangat untuk belajar di Mesir.
Warga Dusun Dempok, Desa Grogol, Kecamatan Diwek Jombang ini juga mengaku sangat betah tinggal di mesir.
Agil tinggal di Madinatul Buuts Al Islamiyah, Daheer, Cairo, Mesir. Di sana, ia belajar banyak hal.
Termasuk manajemen waktu, dan memaksimalkan waktu yang ada untuk belajar selama di Mesir.
Keuntungan lainnya saat di Mesir adalah berjumpa dan belajar langsung dengan ulama yang sangat dalam keilmuannya.
Juga pengalaman tentang pendewasaan diri dalam menghadapi masalah, pengalaman kemandirian juga bagian dari belajar.
”Di sini banyak pengalaman berharga. Belajar dengan ulama terkemuka dan dalam ilmunya bagi saya adalah pengalaman paling berharga,” jelasnya.
Saat awal tiba di Mesir 2022 lalu, hal yang kontras ia rasakan adalah cuaca dan makanan.
Menurutnya cita rasa orang Mesir tidak seberagam orang Indonesia yang kuat rasa rempah-rempahnya.
Di awal tinggal di Mesir lidahnya seakan menolak makanan-makanan Mesir.
Tapi lama kelamaan ia mulai bisa beradaptasi dengan cita rasa masakan Mesir yang khas.
Sementara dalam hal cuaca, sangat berbeda dengan Indonesia. Sebab, Mesir bukan negara tropis yang dilalui garis katulistiwa.
Suhu saat musim dingin antara 6-11 derajar celcius, sementara saat musim panas bisa mencapai 35-40 derajat celcius.
”Baik musim panas maupun dingin udara di Mesir kering bukan udara lembab,” ungkapnya.
Untuk bisa kuliah di Mesir, minimal harus memiliki bekal hafalan Alquran dua juz.
Kemampuan membaca Alquran dan memahami teks arab dan dapat berkomunikasi dengan bahasa Arab juga menjadi bekal yang tak kalah penting.
”Dulu awal saya mengikuti program pelatihan bahasa Arab sebagai persiapan masuk perkuliahan,” jelasnya.
Agil kuliah dengan beasiswa Nahdlatul Ulama, caranya dengan mengikuti informasi terbaru dari PBNU, sembari dengan menyiapkan materi yang akan diujikan.
”Biasanya nanti ada pengumuman seleksi dan penerimaannya, makanya harus mengikuti informasi terkini dari PBNU,” jelasnya.
Menurutnya, pendidikan di Al Azhar dengan di Indonesia sangat berbeda.
Jika Indonesia menilai kehadiran menjadi salah satu syarat kelulusan, di Mesir tidak.
Di sana lebih mengedepankan kesadaran diri, tidak ada absensi untuk naik tingkat.
”Benar-benar murni dari hasil ujian, tidak ada remidi bagi yang hasilnya kurang baik saat ujian,” jelas pria yang hobi berenang, membaca, dan travelling ini.
Selain aktif kuliah, Agil juga aktif di berbagai kegiatan organisasi yaitu Tebuireng Center, ketua Komunitas Ringin Contong, Forum Delegasi Nahdlatul Ulama, Forum Pelajar Indonesia Buuts, dan Peserta Sekolah Diplomasi. (wen/naz/riz)
Editor : Achmad RW