RADAR JOMBANG - Bahasa Inggris sudah menjadi bahasa ibu bagi Wisanggeni Fathinnata Umam. Keterampilan itu membuatnya semakin nyaman dalam menempuh pendidikan S1 Teknik Mesin di Universiteit Twente Belanda.
”Sejak awal saya memang ingin di Eropa dan pengen sekolah teknik,” kata Wisang, warga jalan Murbei, Kelurahan Kepanjen, Kecamatan Jombang.
Lahir di Jombang, 24 September 2004, Wisang besar di Venezuela Amerika Selatan. Ia menempuh pendidikan SD selama 4 tahun di sana. ”Karena ayah dan ibu juga tinggal di sana. Jadi, saya ikut mereka,” kata Putra Muhammad Syaiful Umam dan Laubna Dzakiah ini.
Menginjak usia SMP, dia pulang ke Jombang dan bersekolah di SMPN 2 Jombang kemudian lanjut di SMAN 2 Jombang.
Sejak duduk di bangku SMA, ia belajar keras untuk bisa masuk di perguruan tinggi negeri, termasuk mengikuti olimpiade siswa nasional maupun olimpiade lainnya.
Namun, di tengah perjalanannya menyiapkan masuk di perguruan tinggi negeri, keluarga dan teman-teman dari luar negeri lebih menyarankan agar Wisang kuliah di luar negeri saja. ”Setelah itu saya memutuskan kuliah di luar negeri saja,” katanya.
Menurut Wisang, untuk mendaftar kuliah di luar negeri cukup mudah. Sebab, semua universitas yang ada di Belanda hanya melihat rapor dan ijazah sebagai acuan utama.
Untuk mendapatkan beasiswa, nilai skor tes Bahasa Inggris dan prestasi-prestasi yang pernah ia ikuti saat di SMA yang dipertimbangkan pihak kampus dan akhirnya ia mendapatkan beasiswa parsial.
”Saya mendapatkan beasiswa parsial dari universitasnya sendiri, untuk tahun pertama mendapatkan potongan, begitu juga untuk tahun-tahun berikutnya,” jelas pemuda yang suka olahraga, membaca, menulis dan bermain musik tersebut.
Beasiswa yang ia peroleh dilihat melalui skor TOEFL/IELTS, nilai rapor SMA, dan hasil-hasil lomba yang ia peroleh semasa duduk di SMA. Menurutnya, persiapan utama yang harus matang sebelum kuliah di luar negeri adalah kemampuan berbahasa Inggris.
Karena Bahasa Inggris merupakan bahasa yang paling umum digunakan baik pada masa perkuliahan, maupun perkumpulan.
”Untuk saya kelas dalam kampus dan interaksi dengan orang lokal juga menggunakan Bahasa Inggris. Karena di Belanda, sekitar 95 persen orang memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang setara dengan penutur asli Bahasa Inggris,” kata Wisang.
Berbeda dengan karakter orang Indonesia yang sangat ramah, menurut Wisang, tinggal di luar negeri atau di tempat asing dengan orang-orang baru berbeda. ”Kita perlu belajar bagaimana menjadi individualistis, sehingga pada akhirnya yang memegang kendali pada hidup kita yaitu diri sendiri,” jelasnya.
Belajar di luar negeri menurutnya bebas, tidak perlu khawatir terhadap hal-hal yang bersifat dangkal seperti senioritas, atau pilih kasih.
Bahkan dosen hanya meminta untuk dipanggil nama depan saja di luar negeri. ”Dan di negara yang liberal seperti Belanda, setiap orang diperlakukan sama baik dosen maupun mahasiswa,” kata dia.
Di Belanda, ia tinggal di Flevolandstraat 25, 7543XB, Enschede, the Netherlands. Bukan pertama kali tinggal di luar negeri, namun ia tetap merasakan culture shock ketika awal pindah ke Belanda, yaitu sejak September 2022.
Di Belanda, ia lebih banyak menggunakan sepeda ke mana-mana. Jika menempuh jarak yang lebih jauh, di sana transportasi umum lebih diminati yaitu bus dan kereta. ”Selama satu tahun di Belanda, saya belum pernah menggunakan mobil ke mana-mana karena di sana lebih banyak bersepeda,” jelasnya.
Tidak hanya itu, postur tubuh orang di sana juga sempat membuatnya kaget. Tinggi Wisanggeni adalah 170 cm. Di Indonesia, tinggi 170 cm tergolong cukup tinggi, namun di Belanda, tinggi untuk laki-laki rata-rata 183 cm.
Negara Kincir Angin tersebut benar-benar memikat hati Wisanggeni. Bahkan, ia memiliki rencana untuk menetap di sana. Menurutnya, karena Bahasa Inggris sudah menjadi bahasa kesehariannya.
Bahkan ia lebih fasih berbahasa Inggris daripada berbahasa Indonesia. ”Menurut saya, saya akan berkembang lebih baik apabila menggunakan bahasa yang lebih saya sukai atau yang lebih saya kuasai, apalagi saya tidak ada kewajiban untuk kembali lagi setelah lulus kuliah,” pungkasnya.
Selama duduk di bangku SMA, Wisanggeni juga termasuk siswa berprestasi. Ia merupakan tim OSN komputer di SMAN 2 Jombang, tapi hanya sampai di jenjang kabupaten. Wisang juga finalis olimpiade kebumian dan juara 2 lomba video tentang energi geothermal. (wen/naz/riz)
Editor : Achmad RW