“Rumah korban memang sudah ditinggalkan, barang-barangnya juga sudah bersih,” terang Nur, 30, salah satu korban arisan Bodong.
Warga Desa Sumberagung, Kecamatan Perak ini menyebut, pengosongan rumah juga dilakukan oleh korban arisan lain. Ceritanya, Rabu (29/6) lalu, ia bersama saudaranya sedang mencari keberadaan Indri di rumahnya di Dusun Bekel, Desa Kepuhkajang, Kecamatan Perak. Namun, begitu sampai di rumah, ia melihat barang-barang di rumah indri sedang dinaikkan ke truk engkel.
“Semua perabot diangkut, mulai almari, rak sampai kasur, sempat saya foto juga,” ungkap dia sembari menunjukkan hasil jepretan kamera handphone-nya. Ia sempat menduga Indri pindah rumah. Namun setelah tanya ke beberapa orang yang bertanggungjawab atas pengosongan rumah, barulah diketahui hal sebaliknya. “Jadi ada satu korban, bawa adiknya yang tentara, dia orang Mojokerto,” lontarnya.
Dalam percakapan itu, mereka sengaja mengambil barang di rumah Indri untuk jaminan karena kerugian yang diderita korban arisan sangat besar. “Saya cuma Rp 5 juta, dia kerugiannya sampai Rp 150 juta, akhirnya ya saya cuma bisa pasrah,” lontarnya lagi.
Hingga kini, sejumlah korban arisan bodong masih menunggu itikad baik dari Indri. Upaya pencarian juga terus dilakukan oleh puluhan korban lainnya. “Dalam waktu dekat juga beberapa korban lain akan melaporkan lagi ke polisi,” pungkasnya.
Sebelumnya, enam ibu-ibu muda mendatangi Mapolsek Perak, Kamis (30/6) kemarin. Mereka melaporkan Indri, warga Desa Kepuhkajang, Kecamatan Perak yang telah membawa lari uang arisan online. Nilai totalnya ratusan juta rupiah. Mereka merasa ditipu setelah uang arisan yang pasn penarikan biasanya lancar, tidak bisa cair. Sementara Indri memilih pergi dan menghilang dari rumah. Seluruh akun medsos dan nomor hanphone juga tak lagi bisa diakses. (riz/bin) Editor : Achmad RW