JOMBANG – Kawasan parkir wisata religi makam Gus Dur jadi sorotan pengunjung. Selain persoalan sampah, kondisi sejumlah fasum terlihat minim perawatan.
Pantauan di lokasi Minggu (17/5) siang, terlihat lalu lalang peziarah keluar-masuk kawasan parkir. Di salah satu sudutnya terlihat tumpukan sampah yang dibiarkan berserakan.
Ada juga tong sampah yang sudah penuh sampai-sampai sebagian sampah berceceran.
Selain itu, terlihat cat monumen Al Husna telah memudar bahkan mulai terlihat lumutan. Kondisi ini diperparah dengan air dalam kolam yang terlihat keruh serta banyak sampah.
Khusnul Arifin, 30, salah satu peziarah asal Desa/Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek menyoroti pengelolaan sampah di kawasan parkir makam Gus Dur.
”Itu sepertinya sudah berhari-hari tidak diambil sampai menumpuk penuh begitu. Harusnya tiap hari rutin dibersihkan,” ungkapnya.
Selain itu, di sejumlah titiknya, banyak sampah tercecer, padahal setiap harinya ribuan orang berdatangan ziarah. ”Saya lihat air kolam di monumen itu juga keruh, banyak sampahnya juga, padahal itu jadi jujukan peziarah,” bebernya.
Menurut dia, kebersihan kawasan wisata seharusnya menjadi perhatian utama. Karena lokasi itu ramai dikunjungi peziarah maupun pelajar.
Apalagi di kawasan itu juga terdapat Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari (Minha). ”Harusnya dari pemerintah atau sukarelawan dibersihkan setiap waktu, jadi tidak menunggu sampah menumpuk banyak. Karena banyak peziarah dan anak-anak sekolah juga yang datang ke sini,” imbuhnya.
Dia menilai, meski sampah belum menimbulkan bau menyengat, kondisi tersebut tetap mengganggu pemandangan pengunjung.”Yang penting kebersihan itu diutamakan, apalagi di lokasi wisata begini,” katanya.
Baca Juga: Wow! Retribusi Terminal Wisata Religi Gus Dur Jombang Raup Rp 261 Juta Selama Empat Bulan
Khusnul mengaku cukup sering berziarah ke makam Presiden keempat RI itu. Dalam perjalanan kali ini, rombongannya singgah ke makam Gus Dur usai dari Kediri dan selanjutnya menuju Kecamatan Mojoagung sebelum kembali ke Trenggalek. ”Ini tadi berangkat rombongan bareng ibu-ibu jemaah Yasinan,” bebernya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Jombang Nur Evva Maylia mengakui pengelolaan kawasan parkir wisata religi menjadi kewenangan pihaknya.
Dia memastikan terdapat petugas kebersihan yang bertanggung jawab di area parkiran maupun toilet. ”Untuk kebersihan ada petugas dari kami yang bertanggung jawab di lokasi parkiran dan toilet kamar mandi,” ujarnya.
Selain itu, pihaknya juga berkolaborasi dengan pedagang asongan untuk melaksanakan kerja bakti rutin dua kali dalam sepekan guna menjaga kebersihan kawasan parkir.
”Untuk kebersihan parkiran kami juga berkolaborasi dengan pedagang asongan secara rutin seminggu dua kali melaksanakan kerja bakti bersama,” tuturnya. Evva menegaskan tidak ada kendala terkait tenaga kebersihan di kawasan wisata religi tersebut.
Terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jombang Miftahul Ulum menjelaskan, pengelolaan kebersihan kawasan berada di bawah OPD terkait. DLH hanya bertugas melakukan pengangkutan sampah dari lokasi.
”Untuk pengelolaan sampah di OPD terkait. Kami hanya pengambilan saja. Kebersihan kawasan itu ada di UPT di sana,” jelasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, pendapatan retribusi dari Terminal Kawasan Wisata Religi Gus Dur hingga akhir April tahun ini mencapai Rp 261.665.000. Jumlah tersebut mendekati separo target pendapatan retribusi kawasan wisata religi tahun ini Rp 562 juta. (fid/naz)
Editor : Anggi Fridianto