Radarjombang.id - Selain merendam rumah warga, banjir yang terjadi dalam beberapa hari terakhir berdampak luas terhadap lahan pertanian di Kabupaten Jombang. Dinas Pertanian Jombang mencatat, sedikitnya ada 525 hektare sawah dilaporkan terdampak. Lokasinya tersebar di tiga kecamatan, yakni Kesamben, Ploso, dan Plandaan.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jombang, M. Rony, menerangkan, hasil pendataan menunjukkan ratusan haktare areal sawah tergenang. Wilayah paling parah berada di Kecamatan Kesamben dengan luas terdampak mencapai 421 hektare. Disusul Kecamatan Ploso seluas 84 hektare dan Kecamatan Plandaan sekitar 20 hektare. ”Pendataan di lapangan masih terus dilakukan,” terangnya.
Di Kecamatan Plandaan, genangan merendam puluhan hektare sawah di Desa Karangmojo dengan usia tanaman padi sekitar 20–25 hari. Sementara di Kesamben, banjir meluas di sejumlah desa, mulai Watudakon, Pojokrejo, Kesamben, Kedungbetik, Podoroto, Kedungmlati, hingga Carangrejo.
Rony menjelaskan, banjir dipicu curah hujan tinggi dalam sepekan terakhir. Kondisi itu diperparah oleh pendangkalan sungai, terutama di aliran Sungai Marmoyo untuk wilayah utara Brantas serta Afvoer Watudakon di kawasan Kesamben. ”Curah hujan tinggi beberapa hari terakhir membuat debit air meningkat. Ditambah lagi terjadi pendangkalan di sejumlah sungai sehingga air mudah meluap ke area persawahan,” ujar Rony.
Meski demikian, Rony memastikan sebagian besar tanaman padi masih bisa diselamatkan. Banyak di antaranya sudah mendekati masa panen sehingga potensi gagal panen relatif kecil. ”Alhamdulillah sebagian besar tanaman sudah hampir panen, jadi kemungkinan tidak sampai puso. Hanya saja kualitas gabah bisa turun jika dipanen dalam kondisi basah,” katanya.
Sebagai langkah penanganan, Dinas Pertanian telah menyiapkan sejumlah bantuan. Di antaranya normalisasi saluran tersier, program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP), serta bantuan benih bagi petani yang lahannya mengalami puso. ”Kami siapkan bantuan benih untuk lahan yang benar-benar puso. Selain itu juga dorong normalisasi saluran agar ke depan tidak terulang,” tandasnya.
Terpisah, Kepala Desa Carangrejo Supriadji menyampaikan, banjir di wilayah Kesamben khususnya Desa Carangrejo disebabkan akibat kondisi sungai dan saluran air yang semakin dangkal. ”Sehingga tidak mampu menampung debit air saat hujan deras,’’ ujar dia. Ia menyebut, hingga Rabu (1/4) air masih menggenang di areal persawahan hingga rumah warga. ”Hari ini masih tergenang, tadi ada tim BPBD Jombang meninjau,’’ pungkasnya.
Menurutnya, setiap musim hujan wilayah Kesamben kerap jadi langganan banjir. Sayangnya, penanganannya hingga kini dinilai belum maksimal. Terhitung saat ini, banjir yang menerjang wilayah Dusun Kandangan sudah hampir memasuki pekan kedua. ”Harapannya ada solusi konkret agar wilayah Kesamben terbebas dari ancaman banjir. Selam ini sudah berulangkali disurvei petugas tapi tindak lanjutnya belum konkret,” imbuh Erton, salah satu petani di Dusun Kandangan. (ang/naz)
Editor : Anggi Fridianto