Radarjombang.id - Hampir setahun menempati hunian sementara di Dukuh Banturejo, Dusun Jumok, Desa Sambirejo Kecamatan Wonosalam, warga terdampak longsor berharap ada kejelasan pembangunan hunian tetap yang dijanjikan pemerintah.
KABUT tipis masih menggantung di lereng Gunung Anjasmoro Wonosalam pagi itu. Deretan bangunan mungil berwarna putih berdiri rapi di tepi jalan berbatu yang menanjak. Tanah yang masih lembap menandakan hujan semalam baru saja reda.
Di bawah rindang pohon sengon dan alpukat, 11 hunian sementara berjajar, menjadi tempat berteduh warga terdampak longsor Dukuh Banturejo, Dusun Jumok, Desa Sambirejo.
Di salah satu teras rumah bernomor 09, Tumiasih, 67, duduk santai sambil memandangi jalan setapak di depannya. Angin pegunungan berembus pelan, menggoyang daun dan atap seng yang sedikit berderit.
”Sudah hampir setahun tinggal di sini,” ujarnya lirih saat Jawa Pos Radar Jombang bertamu pagi itu.
Rumah berukuran sekitar 5 x 5 meter persegi itu berdinding papan ringan dengan atap seng. Bagian depannya diberi tambahan terpal sebagai peneduh.
Lantainya sedikit lebih tinggi dari tanah, disangga pondasi sederhana. Ruangan terbatas itu dibagi untuk dapur, kamar tidur, ruang tamu.
Sebelum longsor menerjang rumahnya awal Februari 2025 lalu, Tumiasih tinggal di Banturejo.
Rumahnya tidak rata tanah, namun menurut kajian BPBD berada di area rawan longsor. Ia masih ingat betul kejadian longsor yang merenggut dua nyawa tetangganya. Sejak saat itu, warga diarahkan pindah demi keselamatan.
Tiga bulan pertama ia jalani di pengungsian. Setelah huntara rampung, ia bersama suaminya menempati rumah kecil di lereng ini. ”Ya ikut pemerintah saja,” katanya.
Meski terlihat tenang, dalam benaknya menyimpan harapan segera memiliki rumah permanen seperti yang dijanjikan pemerintah.
Di usianya yang sudah lanjut, suami Tumiasih setiap hari harus menempuh perjalanan cukup jauh untuk ke ladang. Kebun dan ladang masih berada di kampung lama, terlebih harus melewati jalan yang terjal. “Repotnya kalua ke kebon jauh,” tuturnya. Untuk kebutuhan air dan MCK dirasa aman.
Lantas kapan janji pemerintah membangun hunian tetap akan direalisasikan, Tumiasih menyebut hingga kini belum ada kepastian. ”Nggak tahu kapan, korban longsor yang sebelumnya saja juga belum. Harapannya yang segera punya rumah permanen,” ungkapnya.
Hal serupa dirasakan Ramisih, 76. Perempuan sepuh itu tinggal di huntara sejak April 2024. Ia juga sempat tiga bulan berada di pengungsian. ”Saya tinggal di sini sejak April. Sebelumnya di pengungsian tiga bulan,” ucapnya.
Selain bangunan, warga menerima perlengkapan dapur, tempat tidur, serta kebutuhan dasar lain. Air bersih mengalir lancar dari saluran bersama.Begitu juga listrik tidak ada kendaala. Namun, warga masih menunggu kabar rumah permanen.
”Harapan kami ada rumah permanen. Belum tahu kapan,” ujar Ramisih.
Selain tinggal di rumah sempit dan jalan bergeronjal, salah satu yang membuatnya tidak nyaman adalah nasib pendidikan cucunya. ”Sekolahnya jauh, kasihan. Mau pindah sekolah juga bingung,” bebernya. (naz)
Editor : Anggi Fridianto