Radarjombang.id - Masih tingginya harga telur di sejumlah pasar tradisional mendapat respons Dinas Peternakan (Disnak) Jombang.
Hasil pantauan di lapangan, ada beberapa faktor menyebabkan harga telur masih tinggi. Di antaranya cuaca ekstrem, mengakibatkan produktivitas telur turun.
Kepala Disnak Jombang M Saleh M. Saleh menjelaskan, cuaca ekstrem beberapa waktu terakhir juga berdampak pada produktivitas ayam petelur.
”Faktor cuaca ekstrem, kemarin panas sekarang hujan. Itu akan berpengaruh pada produksi. Itu yang bisa kita baca,” ujar Saleh.
Menurut Saleh, suhu panas yang cukup tinggi beberapa waktu lalu memengaruhi kondisi ayam dan menurunkan hasil produksi. ”Kenaikan harga telur disebabkan penurunan produksi hingga 10 persen, dikarekan cuaca panas ekstrem,” tutur dia.
Sebagai langkah antisipasi, Disnak Jombang terus melakukan pembinaan dan pemantauan rutin kepada para peternak ayam petelur. ”Kami melakukan pembinaan dan pemantauan seluruh peternak ayam petelur. Masukan, keluhan, hingga kendala terus kami tangani, terutama dalam menjaga kesehatan ternak dan pengelolaan pola kandang,” tutur dia.
Hasil laporan diterima pihaknya, harga telur tertinggi di tingkat peternak wilayah Jombang sempat mencapai Rp 26.700 per kilogram. ”Namun saat ini sudah turun menjadi 26.000 per kilogram,” kata Saleh.
Sementara itu, Eko Murdianto salah satu peternak ayam petelur di Desa Mojotengah, Kecamatan Bareng menjelaskan, saat ini harga pakan dinilai masih tinggi, terutama harga jagung. ”Harga jagung sejak seminggu terakhir itu naik, Rp 7.000 per kilogram, sebelumnya sempat Rp 6.000 per kilogram lalu naik lagi Rp 6.500 per kilogram,” ujar Eko.
Selama ini pakan ayam 50 persen mengandalkan jagung. ”Sisanya itu biasanya konsentrat,” tutur dia. Kondisi itu memengaruhi harga jual. ”Dampaknya itu ke harga pokok penjualan juga ikut naik, karena pakan itu separonya dari jagung,” kata Eko.
Sebelumnya, Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagrin) Jombang juga sudah melakukan intervensi harga dengan menggelar pasar murah di sejumlah titik.
Kepala Bidang Sarana Perdagangan dan Barang Pokok Penting Disdagrin Jombang Yustinus Harris Eko Prasetijo menyebut, kegiatan dilakukan untuk membantu masyarakat mendapatkan bahan pokok dengan harga lebih terjangkau.
”Memang ada sedikit kenaikan harga telur di pasar. Karena itu, kami adakan pasar murah termasuk menjual bahan pokok telur dengan harga lebih murah,” ujarnya.
Pasar murah digelar di beberapa lokasi, antara lain Desa Jenisgelaran Kecamatan Bareng dan Kecamatan Perak. Dalam kegiatan tersebut, telur ayam dijual Rp 27.000 per kilogram, lebih rendah dari harga pasar mencapai Rp 29.000 per kilogram, sementara di Pasar Ploso hingga Rp 30.000 per kilogram. (fid/naz)
Editor : Anggi Fridianto