Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Keluh Kesah Petani Tembakau di Jombang Saat Kemarau Basah: Harga Rendah, Waktu Jemur Makin Lama

Achmad RW • Senin, 6 Oktober 2025 | 20:23 WIB

 

Petani tembakau di Ploso, Jombang sedang memanen tembakau dari sawahnya
Petani tembakau di Ploso, Jombang sedang memanen tembakau dari sawahnya

RadarJombang.id – Panen tembakau tahun ini, benar-benar dirasakan tak memuaskan bagi banyak petani di tembakau di Jombang.

Selain harga yang merosot, mereka juga harus dihadapkan dengan ancaman kualitas rendah tembakau lantaran proses penjemuran yang tidak maksimal.

Salah satunya, yang dirasakan Sumarto, 58, petani Dusun Banjarmlati, Desa Jatibanjar, Kecamatan Ploso ini.

Tahun ini, halangan petani tembakau memang disebutnya sangat banyak sejak awal masa tanam.

“Sebenarnya dari awal tanam hujan kan sudah seperti itu, kalau wilayah sini untungnya tidak sampai banjir,” lontarnya.

Hambatan itu, kembali muncul saat datang musim panen. Tahun ini, harga tembakau disebutnya memang anjlok. Penurunannya bahkan mencapai lebih dari 30 persen.

“Harganya yang paling baik itu masih bisa Rp 40 ribu untuk yang kering, tapi yang saya dapat kemarin itu kualitas biasa, masih di angka Rp 22 ribu perkilogram,” lontarnya.

Padahal, dengan kualitas yang sama, tahun lalu ia mengaku bisa mendapat harga yang jauh lebih baik.

“Kalau tahun kemarin ndak bisa diomong, yang sekarang Rp 22 ribu itu tahun kemarin bisa Rp 37 ribu sampai Rp 38 ribu perkilogramnya,” lontarnya.

Kondisi itu, juga membuat pendapatannya terancam turun drastic. Jika tahun lalu dari sawah seluas 300 ru ia bisa memperoleh hasil hingga Rp 50 juta, tahun ini ia memperkirakan pendapatannya akan jeblok.

“Kalau tahun ini semoga saja masih bisa separo lebih, kan ini masih ada daun tengah sampai atas dan harapannya bisa dipanen dan bagus,” imbuhnya.

Kondisi makin pelik, lantaran di musim panen cuaca juga masih tak kunjung membaik. Cuaca panas yang dibutuhkan petani untuk mengeringkan tembakau, tak datang maksimal.

“Halangan kedua ya cuacanya ini, setiap hari mendung, kalaupun ada panas juga tidak terik, jadi penjemurannya lama,” lontarnya.

Tak mengherenkan, petani di sekitar desanya itu, selama ini memang menggunakan metode janturan, yakni cara pengeringan tembakau dalam kondisi daun utuh.

Setelah panen, biasanya petani akan mengelompokkan daun sesuai ukuran yang sama kemudian digapit dengan bamboo dan digantung hingga kering.

Proses ini, disebut Sumarto membutuhkan waktu yang tak sebentar, bahkan untuk panas yang terik sekali.

“Kalau panas sekali, sampai kering itu bisa sempurnya sekitar 10 harian kalau dijantur, nah kalau cuacanya seperti ini dua minggu belum tentu bisa kering,” tambahnya.

Ditambah, dengan hujan yang masih kerap datang, jemuran tembakau petani juga terancam tidak kering maksimal dan berkualitas rendah.

“Bisa muncul flek atau warnanya tidak bagus, harganya juga tetu tidak bisa kayak yang kualitas super,” pungkasnya.

Sebelumnya, produksi tembakau di Kabupaten Jombang tahun ini menurun cukup tajam.

Data Dinas Pertanian menunjukkan rata-rata hanya 62 persen lahan yang bisa dipanen dari total lahan tanam.

Di Kecamatan Ploso, kondisi paling parah terlihat. Dari 1.347 hektare lahan yang ditanam, hanya sekitar 336 hektare atau seperempatnya saja yang bisa dipanen.

Sementara itu, Kecamatan Plandaan masih lebih baik dengan panen sekitar 620 hektare dari total 774 hektare lahan, atau setara 80 persen.

Baca Juga: Petani Tembakau di Jombang Menjerit, Gegara Harga Jual Anjlok

Hal serupa terjadi di Ngusikan, di mana dari 199 hektare lahan, sekitar 166 hektare berhasil dipanen, dengan persentase 83 persen.

Kecamatan Kabuh yang memiliki lahan terluas, yakni 2.440 hektare, hanya bisa memanen sekitar 975 hektare. Artinya, lahan yang berhasil dipanen hanya 40 persen.

Kecamatan Kudu tercatat relatif aman, dengan hasil panen 893 hektare dari total 1.093 hektare, atau sekitar 82 persen. (riz)

 

Editor : Achmad RW
#Harga rendah #Tembakau #jemur #petani #kemarau basah