Debit Air Menyusut, Aliran Sekunder Gude Ploso di Jombang Memutih dan Berbau Tak Sedap

Achmad RW • Dipublikasikan Minggu, 7 September 2025 | 16:28 WIB
Kondisi sekunder Gude Ploso Jombang yang alirannya kecil, berwarna putih dan berbau menyengat
Kondisi sekunder Gude Ploso Jombang yang alirannya kecil, berwarna putih dan berbau menyengat

RadarJombang.id – Kondisi aliran sekunder Gude-Ploso yang membentang di jalur Jombang–Tembelang kini memprihatinkan.

Minimnya pasokan air membuat sungai yang biasanya jernih berubah warna menjadi keruh, bahkan memutih, disertai bau menyengat yang mengganggu warga sekitar.

Pantauan di lokasi pada Sabtu (6/9) siang, aliran sungai tampak kecil. Air yang mengalir hanya sedikit. Sementara di beberapa titik terlihat sampah rumah tangga yang menyangkut di pinggiran.

Pemandangan itu menambah kesan kumuh di sepanjang jalur yang seharusnya menjadi saluran irigasi.

Setyo (35), warga setempat, mengaku kondisi ini sudah berlangsung lebih dari sepekan.

“Sudah semingguan begini, sejak tidak ada hujan. Airnya berubah jadi putih, dan baunya juga busuk sekali,” keluhnya.

Menurutnya, sejak debit air menurun drastis, sungai justru beralih fungsi menjadi tempat pembuangan limbah.

Baik limbah rumah tangga maupun industri dari sepanjang aliran akhirnya bermuara di saluran Gude-Ploso.

Situasi ini menimbulkan keresahan. Warga mengaku tidak hanya terganggu oleh bau menyengat, tetapi juga khawatir terhadap dampak kesehatan dan lingkungan, apalagi sungai berada di jalur padat aktivitas warga.

Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR Jombang, Sultoni, membenarkan kondisi memprihatinkan tersebut.

Menurutnya, debit air yang sangat minim disebabkan kombinasi antara musim kemarau panjang dan perbaikan di Bendung Selorejo.

“Pasokan air dari Selorejo berkurang drastis, jadi suplai ke aliran Gude-Ploso ikut terdampak,” jelasnya.

Lebih jauh, ia menuturkan, berkurangnya suplai air tidak hanya memengaruhi Jombang, tetapi juga wilayah Kediri dan Malang.

“Selama September dan Oktober, debit air dari DI Siman memang sedikit sekali. Yang ada sekarang hanyalah aliran supleksi dari DI Mrican,” katanya.

Kondisi ini diperkirakan akan berlangsung hingga musim hujan tiba atau perbaikan di Bendung Selorejo selesai.

“Selama tidak ada hujan atau perbaikan rampung, kondisinya akan tetap seperti ini,” tambah Sultoni.

Minimnya air yang mengalir di saluran Gude-Ploso bukan hanya masalah estetika, tetapi juga menyangkut kualitas lingkungan dan kesehatan warga.

Sungai yang berubah menjadi saluran limbah berpotensi mencemari ekosistem serta menimbulkan penyakit.

Warga berharap ada solusi darurat, setidaknya penanganan limbah, sebelum musim penghujan benar-benar datang. (riz/jif/riz)

Editor : Achmad RW
Tercemar gude ploso Berbau Busuk Jombang sekunder tembelang