JOMBANG – Proyek jalan cor di Jalan KH Romli Tamim berjalan tak selesai tepat waktu.
Sesuai jadwal, masa kontrak kerja proyek yang menelan anggaran mencapai Rp 2,8 miliar itu berakhir pada Senin (18/12), namun di lapangan masih ada kekurangan.
Pejabat pembuat komitmen (PPK) Dinas PUPR Jombang mulai memberlakukan denda keterlambatan kepada pelaksana proyek.
Seperti pantauan di lokasi Senin (18/12) siang, nampak pekerjaan masih belum selesai.
Sejumlah pekerja terlihat sibuk mengebut kegiatan pengecoran sebagian ruas jalan.
”Ya harusnya memang selesai hari ini (18/12), tapi sekarang masih ada pekerjaan,” ujar Kepala Dinas PUPR Jombang Bayu Pancoroadi saat dikonfirmasi.
Dari hasil evaluasi, untuk progresnya sudah mencapai 90 persen. Diperkirakan dalam waktu satu minggu ke depan pekerjaan tersebut bisa tuntas.
”Ini tinggal masang box culvert. Kemungkinan satu minggu selesai,” bebernya.
Dirinya menambahkan, karena mengalami keterlambatan, kontraktor diberikan sanksi berupa denda.
”Dendanya dimulai besok (19/12). Denda per hari 1/1.000 dari nilai kontrak,” tegas Bayu.
Dikonfirmasi terpisah, Andi Yudha Pamungkas, pelaksana proyek PT Tuwuh Handayani mengatakan, untuk pekerjaan tinggal sedikit lagi.
Baca Juga: Bidang Bina Marga Dinas PUPR Jombang Tuntas Realisasikan 53 Paket Kegiatan Jalan dan Jembatan
”Kemungkinan besok (19/12) bisa selesai,” ungkapnya.
Dikatakannya, untuk pekerjaan tinggal melakukan pengecoran. Ia mengaku akan menambah jam pekerjaan untuk segera menyelesaikan pekerjaan.
”Jadi nanti kami akan melakukan pengecoran sampai malam, sehingga besok bisa selesai,” pungkas Andi.
Seperti diberitakan sebelumnya, pekerjaan proyek rekonstruksi Jalan KH Romli Tamim harus mundur sebulan dari kontrak kerja yang telah ditetapkan.
Seharusnya, pekerjaan yang menelan anggaran Rp 2,8 miliar itu dikerjakan mulai 21 Agustus, akan tetapi baru bisa dikerjakan pada 26 September.
Alhasil, progres pekerjaan mengalami keterlambatan hingga 6 persen.
Andi Yudha Pamungkas, pelaksana proyek PT Tuwuh Handayani tak menampik pengerjaan proyek molor hingga satu bulan karena ada perubahan desain.
”Awalnya saluran air ini lebarnya 2 meter berubah menjadi 1,5 meter,” ujarnya saat dikonfirmasi, Minggu (15/10).
Adanya perubahan ini diketahui, setelah akan melakukan penggalian. Apabila saluran air digali dengan lebar dua meter akan memakan lahan warga.
”Akhirnya pertimbangannya mengubah desain,” tegasnya.
Selain itu, yang mengakibatkan pekerjaan mundur juga karena adanya soialisasi kepada warga sekitar proyek. ”Yang lama juga sosialisasi dengan warga,” ungkapnya. (yan/naz/riz)
Editor : Achmad RW