Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Saluran Dikeringkan, Petani di Jombang Terpaksa Tunda Masa Tanam

Ainul Hafidz • Senin, 2 Oktober 2023 | 14:30 WIB
Kondisi saluran Mrican yang kini dikeringkan karena proyek perbaikan tanggul membuat petani mengundur masa tanam
Kondisi saluran Mrican yang kini dikeringkan karena proyek perbaikan tanggul membuat petani mengundur masa tanam

JOMBANG – Sejumlah petani di Kecamatan Bandarkedungmulyo terpaksa harus menunda bercocok tanam.

Pasalnya, pasokan air irigasi sawah mereka tersendat lantaran terdampak terdampak proyek di Daerah irigasi (DI) Mrican.

”Habis ini mungkin nggak berani tanam padi lagi, soalnya saluran di Mrican diperbaiki. Jadi nggak ada air lagi,” Rumadi, petani asal Dusun Rejosari, Desa Tinggar.

Ia menambahkan, berdasarkan hasil rapat bersama petani lainnya. Saluran berasal dari DI Mrican tak lagi bisa menyuplai sawah petani.

Sebab, adanya proyek perbaikan lantai dan talud saluran. ”Biasanya di sini satu tahun tiga kali padi, setelah ini mungkin dibiarkan dulu sambil nunggu musim hujan,” imbuhnya.

Menurutnya, misal tetap memaksakan menanam padi, petani harus memutar otak untuk mencukupi kebutuhan pengairan sawah.

”Kalaupun harus pakai mesin pompa juga tidak mampu, belum biaya ngebor,” tutur dia.

Karena alasan itu, sembari menunggu musim hujan tiba diperkirakan sawah di desa setempat sementara dibiarkan nganggur.

”Sebenarnya masih bisa ditanami palawija, pengairannya tidak butuh banyak. Tapi, takutnya sudah hujan,” kata Rumadi.

Senada, Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPKL) Kecamatan Bandarkedungmulyo Ahmad Fauzi mengatakan, adanya proyek di DI Mrican bakal berdampak ke pengairan sawah di wilayah setempat.

”Jadi sudah ada informasi dari dinas PUPR, ada perbaikan atau pengeringan di DI Mrican, sehingga debit airnya tinggal separo dan jadwal pengeringannya juga agak panjang,” kata Fauzi.

Sehingga, lanjut Fauzi, dampaknya bakal dirasakan petani.

Sebab, mayoritas pertanian di wilayah setempat pengairannya selama ini mengandalkan DI Mrican.

Sudah ada pertemuan lebih lanjut masing-masing kelompok tani di kecamatan setempat.

”Kira-kira tanam lagi atau yang lain, informasi dari beberapa desa kemungkinan sawahnya diistirahatkan selama satu bulan, karena pengairan tidak normal,” imbuh dia.

Diperkirakan akhir Oktober petani setempat bakal kembali menggarap sawahnya.

”Secara otomatis musim tanam mundur, kemungkinan awal atau pertengahan Desember baru mulai tanam,” ujar Fauzi.

Terpisah, Kepala Dinas PUPR Jombang Bayu Pancoroadi melalui Kabid Sumber Daya Air (SDA) Sultoni menerangkan, untuk sementara ini kebutuhan pengairan sawah tersendat.

Lantaran adanya proyek di DI Mrican. ”Iya, jadi pemerintah pusat punya gawe besar di induk DI Mrican, baik di Kabupaten Kediri dan Jombang yang terdampak,” kata Sultoni.

Sesuai surat yang diterima pihaknya, sejak akhir September saluran untuk pengairan sawah sudah tak lagi dialiri air.

”Jadi mulai 28 September-15 Oktober mati total, artinya sudah tidak mengalir sama sekali. Lalu seminggu selanjutnya, mengalir dengan debit 50 persen atau sangat kecil,” imbuh dia.

Meski begitu, jadwal itu menyesuaikan kondisi di lapangan.

Sebab, pemkab sebelumnya mengusulkan agar ditutupnya aliran saluran dilakukan menjelang panen padi.

”Paling kita utamakan kemarin mencari waktu panen padi berakhir, kalau dijadwal di awal atau pertengahan tanam dampaknya malah ke mana-mana,” kata Sultoni. (fid/naz/riz)

Editor : Achmad RW
#petani #Jombang #masa tanam #Dikeringkan #saluran air