Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Cuaca Ekstrem, Bikin Petani Melon di Jombang Merugi Puluhan Juta

Achmad RW • Minggu, 2 Juli 2023 | 13:20 WIB

 

Petani melon di Desa Pucangsimo, Kecamatan Bandarkedungmulyo sedang memanen melon. Tahun ini, panen mereka merosot harganya karena dampak cuaca ekstrem.
Petani melon di Desa Pucangsimo, Kecamatan Bandarkedungmulyo sedang memanen melon. Tahun ini, panen mereka merosot harganya karena dampak cuaca ekstrem.

JOMBANG – Memasuki musim panen, petani melon di Desa Pucangsimo Kecamatan Bandarkedungmulyo mengalami kerugiaan puluhan juta rupiah. Hal itu dipicu hasil panen yang tak maksimal akibat cuaca ekstrem.

Seperti yang terlihat di areal persawahan Desa Pucangsimo Sabtu (1/7), sejumlah buruh tani memetik melon yang layak, kemarin. Sedangkan melon yang busuk dan ukurannya kecil-kecil, dibiarkan di ladang atau pematang sawah.

Heri Kiswanto,35, salah satu petani mengatakan, hasil panen musim ini kurang maksimal. ’’Di lahan saya, 7.000 meter persegi hanya bisa panen lima ton. Padahal sebelumnya, bisa mencapai 30 ton,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Jombang.

Dibanding tahun lalu hasilnya merosot tajam. Apalagi harga jual melon dari ladang cukup murah.’’Dari ladang Rp 5 ribu per kilogram. Cuma naik Rp 500, dari sebelumnya Rp 4.500 per kilogram,’’ tambahnya.

Banyaknya melon yang tak bisa dipanen maksimal karena pengaruh cuaca yang cukup panas hingga membuat melon puret dan tidak bisa membesar. Akhirnya, saat memasuki usia panen, melon tersebut tak bisa tumbuh maksimal. ’’Ada juga yang busuk akibat kena virus,’’ tambahnya.

Hal itu, juga dibenarkan Kepala Desa Pucangsimo M Soni. Menurutnya, banyak petani melon di desanya yang merugi akibat cuaca ekstrem itu.

Lahan pertanian di Desa Pucangsimo yang ditanami melon sekitar 40 hektare. Namun, hasil panennya kurang maksimal akibat cuaca panas dan serangan virus. ’’Per hektarnya bisa rugi Rp 50 juta,’’ kata  (ang/jif/riz)

 

 

Editor : Achmad RW