”Ya kita dapat alokasi 1.000 dosis untuk 1.000 ekor sapi. Sasaran utama kami sapi jantan calon hewan kurban,’’ ujar Drh Aziz Daryanto Kabid Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Jombang, kemarin (23/5) siang.
Pantauan di lokasi, tampak sejumlah petugas menyuntik vaksin jenis Lumpyvax yang baru didrop dari pemerintah pusat. Satu ekor sapi mendapat satu dosis vaksin. Adapun yang divaksin untuk sementara, adalah sapi jantan yang akan diperuntukkan kurban.
Sejauh ini, lanjutnya, cakupan vaksinasi LSD telah mencapai 50 persen dari total 1.000 ekor. Sedangkan kekurangannya, masih menunggu pengiriman dari Dinas Peternakan Jawa Timur. ”Untuk sapi yang belum dapat vaksin, kita tunggu jatah vaksin turun, karena memang bertahap. Tidak seperti vaksin PMK yang ketersedianya cukup banyak,’’ tambahnya.
Dari informasi yang didapat, jatah vaksin LSD akan turun Juni mendatang. Namun ia belum bisa memastikan apakah turun sebelum atau sesudah Hari Raya Idul Adha. ”Jika nanti sampai menjelang Idul Adha belum turun, maka H-10 kita terjunkan tim masing masing kecamatan, baik untuk cek ke lapangan, ke peternak atau cek pedagang yang membuka lapak di tepi jalan,’’ jelas dia.
Disampaikan, sapi yang terjangkit LSD memang tidak berbahaya dan menular ke manusia. Namun dari segi kepantasan untuk konsumsi kurang baik. Sebab, kondisi sapi yang terjangkit LSD mengalami kerusakan pada bagian kulit. ”Artinya kalau sapi terkena LSD sebaiknya tidak digunakan untuk hewan kurban. Tapi disembuhkan dulu. Sebab dagingnya secara kepantasan tidak layak konsumsi,’’ bebernya.
Ia menyampaikan, sejauh ini LSD masih ditemukan kasus baru yang menjangkit pada sapi. Jumlah penambahan per hari masih ada, meski tak sebanyak Maret lalu. ”Per hari ada 1-2 penambahan, namun dalam kondisi wajar,’’ tambah dia.
Dari total 1.800 kasus LSD di Jombang, ia menyebut sebagian besar sudah sembuh. Jumlah sapi yang masih dalam perawatan saat ini masih ada puluhan ekor. ”Jumlahnya tinggal sedikit, tidak sampai 100 ekor,’’ pungkasnya. (ang/bin/riz) Editor : Achmad RW