Rumah joglo bergaya klasik tampak ayem dipandang. Rumah klasik di Dusun/Desa Plandi, Kecamatan/Kabupaten Jombang itu ditempati Sjaichuddin, 81, salah seorang cicit Kiai Sadrani. Di rumah itulah masih ada sejumlah benda peninggalan sosok pembabat alas Plandi. Seperti keris dan tiga kitab kuno tulisan tangan yang dibuat abad 17 silam.
”Ini semua peninggalan Mbah Kiai Sadrani. Sudah turun temurun sejak kakek saya,’’ ujar Sjaichuddin kepada Jawa Pos Radar Jombang, kemarin. Dengan hati-hati, bapak tujuh anak ini kemudian menunjukkan sejumlah benda peninggalan Kiai Sadrani dari sebuah kotak kayu dengan kunci kuningan yang masih terawat.
Begitu dibuka, aroma kuat dari kapur barus seketika menyeruak. Mengelilingi seluruh ruang tamu. ”Saya beri kapur barus supaya tidak didekati rayap atau hewan lainnya,’’ terangnya.
Pusaka itu berupa keris tua yang masih lengkap dengan warongkonya. Menurut cerita turutn temurun dari keluarganya, keris itu dibuat pada abad 17 atau akhir 1700 M oleh empu yang ada di Mataram kuno di Jawa Tengah. “Saya tidak tahu ini keris namanya apa. Namun yang jelas pusaka yang masih tersisa,’’ jelas dia.
Selain keris, ada juga tiga kitab kuno tulisan tangan pegon alias tulisan arab yang tidak menggunakan harakat. Uniknya, jika diterawang dengan senter dibalik kertas itu muncul sebuah lambang Belanda. ”Kitab ini menceritakan tentang nabi-nabi dan juga ilmu yang mempelajari tentang Bahasa Arab,’’ terangnya.
Ia menceritakan, Kiai Sadrani adalah pasukan Pangeran Dipenogoro. Ia melarikan diri ke alas Plandi sekitar 1860 silam karena benteng Belanda di Kudus cukup kuat. ”Ia lari ke timur di sini (Desa Plandi, Red) bersama dua orang temannya. Jadi yang mbabat alas ada tiga, yakni Mbah Sadrani dan dua orang yang pergi ke Malang,’’ pungkas dia. (ang/bin/riz) Editor : Achmad RW