”Kalau Ramadan seperti ini permintaan banyak, sampai kewalahan,” terang Sugeng, perajin sarung tenun goyor.
Ia menambahkan, berbeda dengan sarung pabrikan, pembuatan sarung tenun goyor cenderung memakan waktu lebih panjang lantaran prosesnya masih tradisional. ”Jadi ditenun dengan alat tradisional,” imbuhnya.
Sejak merintis usaha 2015 lalu, usaha produksi sarung tenun goyornya terus berkembang. Bahkan sekarang ia dibantu sekitar 25 karyawan yang sudah terlatih. ”Awalnya saya membuat sendiri sarung goyor ini. Karena permintaan meningkat saya ajak tetangga saya untuk bekerja,” katanya.
Dikatakannya, sarung tenun miliknya berbeda dengan sarung tenun lainnya. ”Kalau dipakai cuaca dingin sarung terasa hangat. Apabila dipakai waktu panas sarung menjadi dingin. Ini lah perbedaan dengan yang lain,” ungkapnya.
Bahan sarung tenunnya dipilih dari bahan berkualitas. Untuk benangnya menggunakan bahan dari kapas yang ia impor dari Cina. ”Jadi bukan benang biasa. Ini benang khusus jadi selain enak digunakan juga tidak gampang putus waktu menenun,” bebernya.
Meski saat ini mempunyai 25 karyawan, dirinya mengaku masih kewalahan memenuhi permintaan konsumen. Terlebih lagi saat Ramadan, permintaan meningkat pesat. ”Saya dalam seminggu hanya mampu produksi 100 biji. Padahal kalau Ramadan ini permintaan satu hari bisa mencapai 50 biji,” katanya. Terlebih lagi, permintaan bukan dari pasar lokal melainkan hingga Timur Tengah. ”Untuk harganya sendiri saya jual Rp 500 ribu per biji,” pungkas Sugeng. (yan/naz/riz) Editor : Achmad RW