Seperti dirasakan Shelfida, 29, warga Sambongdukuh Jombang yang setiap sore, di depan rumahnya menjual kolang-kaling. Buah yang ia datangkan dari luar kota itu diolahnya sendiri. “Ini kolang-kaling sedang dibersihkan, biar baunya hilang,” lontarnya.
Proses pencucian dan pembilasan itu dilakukan hingga tiga kali secara berulang. Meski terlihat merepotkan, Shelfida mengaku lega. Hal itu karena kondisi buah kolang-kaling memang jadi buruan setiap bulan puasa tiba. “Kalau ramadan begini memang pesanannya melonjak, biasanya buat bahan tambahan es atau takjil,” lanjutnya.
Ia mengaku, jumlah pesanan kolang-kaling cukup banyak hingga harus disediakan setiap hari. Bahkan hingga 10 kali lipat. “Kalau hari biasa sehari bisa 10-20 kilogram, nah kalau pas puasa bisa sampai 1-2 kuintal,” imbuh ibu dua anak ini.
Selain kuantitas pesanan yang naik, harga jual kolang-kalingnya juga ikut naik. Jika di hari biasa, dia menjual dengan harga Rp 18-20 ribu per kilogram, di momen Ramadan ini harganya bisa mencapai Rp 22 ribu per kilogram. “Jadi untungnya lumayan, karena memang panen pedagang kolang-kaling ya pas bulan puasa,” rincinya.
Kolang-kaling olahannya, biasa dijual di sejumlah pasar tradisional di Jombang. Olahan ini sangat disuka masyarakat, terlebih tak banyak pesaing. “Kalau kolang-kaling memang masih sedikit yang produksi di Jombang, jadi sudah pasti laku,” pungkas dia. (riz/bin/riz) Editor : Achmad RW