Pantauan di lokasi, jenazah Nyono tiba di rumah duka Dusun Balonggading, Desa Sepanyul, Kecamatan Gudo, sekitar pukul 10.00. Jenazah diantar mobil ambulans RSUD dr Saiful Anwar Malang nopol N 9055 A. Tampak hadir di rumah duka, Wabup Sumrambah, Ketua DPRD Mas’ud Zuremi, jajaran Forkopimda, sejumlah kepala OPD, anggota DPRD Jatim dan DPRD Jombang hingga simpatisan dan seluruh masyarakat yang ikut berbela sungkawa.
Secara umum prosesi pemakaman jenazah berlangsung lancar. Istri, anak-anak dan keluarga besar Nyono Suharli tak kuasa menahan tangis ketika jasad mantan bupati itu diturunkan ke liang lahat. Warga dan simpatisan ikut membantu prosesi pemakaman. ”Pak Nyono meninggal Sabtu pagi sekitar pukul 5.30. Namun anfal sudah terjadi sekitar pukul 03.30,’’ ujar Lukito, kakak kandung Nyono Suharli, saat ditemui usai pemakaman.
Ia lantas bercerita, jika Nyono Suharli mengeluh ada indikasi sakit jantung sebulan lalu. Iapun mengantarkan saudaranya ke ahli jantung di Surabaya. ”Setelah diperiksa ternyata tidak apa-apa,’’ ujar dia.
Beberapa pekan kemudian, Nyono Suharli terpilih menjadi Ketua komunitas purnabakti kepala desa seluruh Indonesia (Kompakdesi) Jatim. Dalam organisasi itu, ada rekan anggota yang berhasil sembuh dari sakit jantung setelah pasang ring pada salah satu pengobatan di Jakarta. ”Dari situlah pak Nyono istilahnya terpesona, ya udah mas aku tak ikut, bilang gitu Pak Nyono,’’ kenangnya sambil menirukan ucapan adiknya beberapa waktu lalu.
Lambat laun, Nyono Suharli mengikuti pengobatan jantung yang ada di Jakarta itu. Hanya saja, dalam prosesnya ada treatment yang tidak dilalui sesuai prosedur. “Ini mungkin saja, secara teknik dalam treatment sekali suntik itu harusnya dua minggu sekali. Tapi Pak Nyono seminggu sekali, ya istilahnya seperti overdosis begitu. Mungkin beliaunya ingin segera fit, dia minta 4 kali,’’ jelas dia merinci.
Pada periode ke-5 treatment di minggu kedua, Nyono Suharli mengeluh ada gangguan pernafasan. Sejak saat itu, ia termasuk keluarga besarnya mencegah agar berhenti mengikuti pengobatan tersebut. ”Setelah itu kita cegah, jangan dulu. Tapi ternyata dia (Nyono, Red) ngajak adiknya Pak Memed (Meidi Bambang, Red),’’ paparnya.
Akhirnya, Nyono Suharli tetap mengikuti treatment hingga periode ke-7. Hanya saja, kondisi mantan bupati itu bukannya membaik, justru makin banyak mengeluhkan beberapa gejala. ”Waktu pulang ke Surabaya hari Minggu kemarin, di jalan Pak Nyono bilang tidak kuat. Dia telepon saya kapan pulang ke Jombang untuk nyekar kebetulan kan mau Megengan,’’ jelas Lukito.
Namun kondisi berbeda lagi. Nyono Suharli memutuskan untuk nyekar sendiri dan langsung pulang ke Malang, Senin (20/3) malam. “Besoknya, Selasa pagi dia telepon saya. Menyampaikan posisinya di Malang dan meminta saya untuk datang karena kondisinya tidak enak badan. Akhirnya kita langsung ketemu di salah satu rumah sakit,’’ jelas dia.
Diceritakan, kondisi adiknya semakin memburuk hingga dirujuk ke RSUD dr Saiful Anwar Malang, Selasa (21/3) malam. ”Rabu pagi oleh dokter dilakukan evaluasi, kemudian Rabu siang dilakukan tindakan,’’ jelas dia.
Saat dilakukan tindakan, kata dia, diketahui sudah ada penyumbatan pembuluh darah koroner jantung cukup besar mencapai 90 persen. ”Ya, ada pembuntuan di cabang utama jantung. Kemudian oleh dokter dibor dan berhasil dipasang ring, namun hasilnya jantung tidak maksimal,’’ paparnya.
Keesokan harinya, Kamis (23/3), kondisi Nyono Suharli dilaporkan kembali memburuk. Sempat mengalami tiga kali anfal alias serangan jantung. ”Ya, jantungnya berhenti sampai tiga kali dan kondisi beliau waktu itu tidak sadar,’’ paparnya lagi.
Hingga akhirnya, Sabtu (25/3) pukul 03.30 Nyono kembali dilakukan pertolongan darurat namun tidak ada hasil. ”Pertolongan selama satu jam tidak ada hasil, kemudian pukul 05.30 dinyatakan meninggal dunia,’’ pungkas Lukito. (ang/bin/riz) Editor : Achmad RW