Pantauan di lokasi, longsoran tanggul itu berada di dekat lahan pertanian. Debit air yang besar di dalam saluran membuat air meluber hingga ke sawah. ”Sebenarnya sudah longsor sejak lama, berhubung kemarin airnya tinggi, longsor bertambah lagi,” kata Sudirman salah satu warga.
Dikatakan, debit air yang tinggi membuat titik longsoran semakin parah. Tanggul yang longsor juga semakin panjang. Semula hanya 2 meter kini menjadi 5 meter. ”Atasnya sekarang sudah bolong, makanya luber sampai ke sawah,” imbuh dia.
Ia menyebut, luber limpahan air yang menggenangi sawah cukup luas. Hitungannya berkisar antara 25 hektare. ”Semua sudah ditanami padi, takutnya dibiarkan lama bisa kebanjiran. Bisa-bisa gagal panen,” ujar Sudirman.
Sementara itu, Kades Turipinggir Gunasir Wibowo, tak mengelak adanya longsoran tanggul di Dusun Paras, Saluran Induk Mrican Kanan. “Karena debit airnya terlalu tinggi,” katanya. Salah satu dampaknya, air meluber hingga ke lahan pertanian. ”Nggak ke permukiman, ke sawah saja. Kurang tahu berapa (luas) yang terdampak,” imbuh dia.
Pemdes setempat kemudian melaporkan peristiwa alam tersebut ke instansi terkait. Harapannya, agar segera dilakukan penanganan. ”Yang tahu di pengairan (Dinas PUPR Jombang), mudah-mudahan segera diperbaiki,” tegasnya.
Terpisah, Kabid Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR Jombang Sultoni, mengaku sudah turun ke lokasi untuk melakukan pengecekan. Sebenarnya, di lokasi itu sejak lama kritis. Bahkan, dulu pernah longsor di bagian atas. Debit air yang naik membuat titik longsoran semakin parah. Sehingga air meluber ke lahan pertanian. ”
Di bawahnya, masih ada pasangan, artinya bagian atas saja yang longsor. Jadi tidak sampai jebol, berhubung debit air naik akhirnya melintas ke sawah. Meski demikian, selain mengalir ke lahan pertanian, juga ke saluran buang tak jauh dari titik longsoran.
”Luberan ini mengalir ke sawah, lalu dari sana (sawah) mengalir lagi sampai ke Afvour (saluran buang) Besuk. Sehingga dampak longsorannya tidak sebegitu signifikan,” ujar Sultoni.
Ia menyebut, genangan air yang terjadi di lahan pertanian bisa berangsur surut. Kendati begitu, peristiwa itu tetap dilaporkan ke pemilik kewenangan saluran. ”Sudah kami laporkan ke UPT PSDA Jawa Timur di Kediri, jadi yang nangani nanti dari sana,” pungkasnya. (fid/bin/riz)
Editor : Achmad RW