’’Saya berjualan ini sejak 1999,’’ ungkapnya saat mangkal di Jl KH Wahid Hasyim. Pukul 13.00 dia mulai ke luar rumah lalu mangkal di Jl Wahid Hasyim. Pukul 16.00 dia geser ke Jl Kusuma Bangsa hingga pukul 22.00. ’’Alhamdulillah dari jualan ini bisa mengkuliahkan anak,’’ beber pria asal Solo ini.
Anak pertamanya sudah mau wisuda. Sedangkan anak kedua tahun ini lulus SMA. Subarjo membuat sendiri es puter yang dijualnya. Proses pembuatannya dilakukan secara manual. ’’Prosesnya tetap saya lakukan secara manual. Tidak menggunakan mesin atau listrik sama sekali,’’ katanya.
Pagi hari, Subarjo pergi ke pasar untuk membeli 10 buah kelapa. Lalu dihaluskan di tempat penggilingan. ’’Bahan utama membuat es puter, gula, roti dan santan,’’ jelasnya. Waktu pembuatan hingga siap dijual, sekitar 2,5 jam.
Prosesnya, kelapa yang sudah dihaluskan itu diperas. Airnya dicampur dengan air gula yang sudah mendidih. Sementara kelapa yang sudah halus itu, dicampuri santan agar aromanya tetap kuat dan segar.
Kemudian jadi satu dalam wadah besar di gerobak. ’’Panci besar itu dilapisi terpal sebagai tempat pecahan es batunya, yang akan dicampur dengan garam,’’ jelasnya.
Panci lantas diputar selama 30 menit. Prosesnya secara manual dengan tangan, tidak pakai mesin atau listrik. Tahap selanjutnya, es yang bercampur dengan bahan-bahan lainnya, dicampur roti tawar yang sudah dipotong berukuran kecil-kecil. ’’Setelah itu kembali diputar hingga semua campur. Es pun siap untuk disantap atau dijual,’’ ucapnya.
Slama ini, es puter buatannya dijual secara keliling dengan menggunakan gerobak, dari satu tempat ke tempat lain.
Harga seporsi es puter ini dulu pada tahun 1999, sekitar Rp 750. Saat ini, harga satu porsi sudah Rp 5.000. ’’Pendapatan setiap harinya sekarang, alhamdulillah sekitar Rp 400 ribuan,’’ terangnya.(yan/jif/riz)
Editor : Achmad RW