”Koordinasi sudah kami lakukan. Besok (hari ini, Red), Surat Edaran (SE) kewaspadaan adanya kasus cibul akan dikirim ke puskesmas, Dinas P dan K, serta Kemenag,’’ ujar Kepala Dinas Kesehatan drg Budi Nugroho, kemarin (16/1).
Ia meminta semua pihak termasuk orang tua lebih meningkatkan pengawasan terhadap jajanan yang dibeli anak. Khususnya membeli jajanan cibul. ”Jajajan cibul saat ini jadi perhatian. Terutama setelah menimbulkan permasalahan kesehatan. Karena ada kandungan nitrogen cair pada asap yang keluar dari jajanan tersebut,’’ papar dia.
Dijelaskan, penggunaan nitrogen cair yang tidak sesuai aturan, memang memiliki dampak berbahaya bagi kesehatan anak. Selain peradangan akibat suhu dingin pada bibir dan mulut, juga menyebabkan keracunan makanan, sesak nafas, kerusakan saluran cerna dan kulit dapat melepuh, mati rasa hingga luka bakar. ”Untuk itu harus lebih waspada,’’ tegasnya.
Budi mengaku di Jombang belum ada temuan kasus keracunan cibul. “Kasusnya belum ada. Tapi yang jual saya pernah lihat saat CFD beberapa minggu lalu,’’ papar dia. Karena itu semua pihak harus turut mewaspadai. Termasuk para penjual jajanan anak-anak, diminta kesadarannya untuk tidak mencari keuntungan semata.
Lantas apakah ada jajanan anak lain yang perlu diwaspadai selain cibul. Budi menyebut, semua makanan yang dijual termasuk makanan siap saji di depan-depan sekolah, harus dipertimbangkan dari sejumlah faktor.
Pertama, bahan yang digunakan berupa pewarna dan pengawet yang digunakan untuk makanan. Proses distribusi hingga terakhir cara penyajian. ”Jadi msialnya dari kandungan pengawetnya kalau berlebihan tentu tidak baik. Begitu dengan kandungan pewarna jika terlalu banyak juga tidak baik,’’ jelas dia.
Untuk itu, ia meminta orang tua betul-betul mengawasi putra putrinya ketika membeli jajanan di sekitar sekolah. ”Jadi pada intinya, setiap makanan yang pengelolaannya tidak sesuai, pasti ada dampaknya. Untuk itu orang tua harus selektif,’’ pungkasnya. (ang/bin/riz)
Editor : Achmad RW