"Ya, ada 40 KK di sekitar Kali Pancir ini," kata Dyah Sungkawaningtyas salah seorang warga, kemarin. Puluhan rumah warga itu berada di sekitar kali Pancir, Desa Grobogan. Setiap air sungai meluap, hampir semua terdampak luberan banjir. Karena itu ia merasa khawatir dan waswas ketika hujan lebat kembali turun.
Terlebih, janji perbaikan tanggul kritis yang disampaikan pemerintah tak kunjung direalisasikan. Sementara tanaman bambu yang menjadi penahan di tanggul kini telah habis ditebang. ”Khawatirnya kalau Kali Pancir di belakang rumah airnya meluap lagi,’’ tambahnya.
Dikonfirmasi hal ini Kepala Dinas PUPR Bayu Pancoroadi, melalui Sekretaris Imam Bustomi, mengatakan jika proyek perbaikan tanggul Kali Pancir Grobogan menjadi wewenang BBWS. ”Kami sudah mengusulkan mana-mana tanggul yang kritis. Namun kewenangan perbaikan tetap ada di BBWS,’’ ujar dia.
Terkait tanggul kritis di Grobogan, ia tak menampik jika tahun ini sebenarnya ada perbaikan dari BBWS. Namun, belum bisa terealisasi karena masih fokus pada penanganan kali ngotok ring kanal. ”Sehingga untuk tahun ini belum dapat diperbaiki,’’ tegasnya.
Untuk diketahui, warga Dusun/Desa Grobogan, Kecamatan Mojowarno dilanda waswas memasuki musim hujan tahun ini. Sebab, perbaikan tanggul kritis yang dijanjikan pemerintah tak kunjung terealisasi hingga di penghujung tahun.
Tampak tanggul kritis Kali Pancir berdekatan dengan sejumlah rumah warga. Setiap kali hujan, mereka merasa khawatir bila wilayahnya sewaktu-waktu kebanjiran. Apalagi sekarang, tanaman bambu yang menjadi penghambat meluapnya air sungai, sudah habis ditebang.
Awal 2022 lalu, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas berencana melakukan perbaikan tanggul kritis hingga membangun parapet untuk menahan air meluap ke permukiman warga. Hal itu ditindaklanjuti hingga akhir Juni, dengan meminta pohon bambu yang berada mengelilingi tanggul ditebang.
Karena permintaanya ditebang untuk proyek perbaikan tanggul, akhirnya kami tebang. Bahkan kami jual dengan harga murah agar proyek segera terlaksana. Namun, setelah semua pohon bambu ditebang, justru proyek tak kunjung dikerjakan. Pihak kontraktor pelaksana dari BBWS tidak memberi tahu kelanjutan proyek tersebut. Tiba-tiba besoknya tidak ada kabar sampai sekarang.
Yang membuat semakin geregetan, semua pohon bambu yang tumbuh di belakang rumah kini sudah gundul. Walhasil, tak ada pohon pembenteng air ketika hujan turun atau saat debit air naik. ”Padahal pohon bambu itu sebelumnya sangat penting untuk warga. Selain untuk penguatan tanggul juga untuk menyekat air ketika banjir,’’ tegas Sumali warga lainnya.
Ia menganggap pohon bambu yang sudah ditebang itu cukup mempengaruhi psikologis warga. Tak heran, kalau warga sangat waswas ketika terjadi hujan atau saat debit air sedang naik. ”Apalagi kalau hujan lebat dan air meluap. Kami tidak bisa tidur dan selalu siaga,’’ tandasnya.
Ia kembali menagih janji pemerintah yang sebelumnya sesumbar akan melaksanakan perbaikan tanggul. Pemkab Jombang bahkan pernah datang ke lokasi untuk melihat titik lokasi banjir. ”Namun hingga akhir tahun tidak ada realisasi,’’ pungkas dia. (ang/bin/riz) Editor : Achmad RW