Dok, dok, dok. Bunyi ketukan palu di daun pintu terdengar cukup lantang dari sudut desa, di sebuah rumah sederhana Desa Tanggalrejo, Kecamatan Mojoagung, kemarin (31/10) siang. Di rumah itu, seorang laki-laki sedang memegang beberapa alat tatah berbagai ukuran. Ada pula palu besar berbahan kayu.
Tanpa banyak cakap, Eko Winiarto warga Desa Catakgayam, Kecamatan Mojowarno ini lantas melanjutkan ukiran setengah jadi. Dia memang sedang mengerjakan pesanan ukiran kayu di rumah salah seorang pelanggannya.
“Ini sedang mengukir pintu dengan motif singa di hutan,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Jombang. Saat membuat ukiran itu Eko mengawali dengan membuat pola kasar. Menggunakan pensil yang digambar sedemikian rupa. Lalu, secara perlahan, pintu diukir sesuai pola.
Proses itu memang tidak mudah dan memakan waktu cukup lama. Namun dengan pengalaman dan keuletan yang dimiliki, baginya mengukir kayu ibarat menggambar di atas kertas. “Saya sudah 10 tahun lebih menggeluti kerajinan ini. dulu awalnya belajar dari Jepara,’’ tambahnya.
Eko bisa menyelesaikan berbagai macam ukiran. Ia juga terkadang melayani request dari pelanggan untuk membuat motif sesuai permintaan. ”Saya bisa mengerjakan berbagai macam pesanan. Ada yang untuk pintu, ventilasi, kursi, almari hingga patung,’’ terang dia.
Dalam sekali pengerjaan, ia hanya membutuhkan waktu paling lama satu minggu. Waktu yang dibutuhkan juga tergantung jenis motif yang diinginkan. Semakin sulit dan rumit motif, maka semakin lama waktu pengerjaannya. ”Paling cepat satu minggu, ada yang bisa sampai satu bulan kalau pesanan banyak,’’ paparnya sambil menunjukkan motif ukiran.
Untuk harga sendiri, Eko menentukan sesuai ukuran dan tingkat kerumitannya. Semisal, untuk dua buah pintu dengan ukiran singa, ia mematok harga Rp 2 juta. ”Ini ukuran 1,5 meter dua unit, dan bisa selesai dalam waktu satu mingguan,’’ jelas dia.
Selama membuat ukiran kayu, ia sendiri mengaku tingkat kesulitan tergantung dari jenis kayunya. Jenis kayu dengan karateristik agak keras, cenderung lebih mudah dan enak diukir daripada jenis kayu yang tidak keras. ”Seperti jati ini enak diukir, karena tidak gampang cuil ataupun patah,’’ tandasnya.
Selama ini, permintaan ukiran tak hanya dilayani dari lokal Jombang. Pesanan dari luar kota juga dilayani dengan estimasi waktu tertentu. ”Ada yang dari Trowulan dan Mojokerto juga bisa,’’ pungkas Eko. (ang/bin/riz)
Editor : Achmad RW