Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Begini Konsep dan Filosofi Patung Sepak Bola di Stadion Merdeka

Achmad RW • Rabu, 28 September 2022 | 13:46 WIB
Patung sepak bola dengan badan Diego Maradona dan kepala Bergkamp di Stadion Jombang.
Patung sepak bola dengan badan Diego Maradona dan kepala Bergkamp di Stadion Jombang.
JOMBANG - Dalam waktu dua malam, Ali Musaffa, warga Desa Dukuhdimoro, Kecamatan Mojoagung, harus menyelesaikan patung sepak bola yang kini berdiri kokoh di depan Stadion Merdeka Jombang. Patung ini dibuat untuk tanah kelahirannya dengan makna filosofi tersendiri.

Rumah Ali, cukup mudah dicari. Tepat di ujung Ring Road Mojoagung. Sekali tanya, warga sekitar langsung tahu dan menunjukkan dengan mudah. Dari kejauhan, terlihat di teras ada mini galery dengan pajangan berbagai karya. Sebagian besar pot berukuran besar.

Ali, sapaan akrabnya, tak pernah berpikir jika karyanya akan dipajang di daerahnya sendiri. Maklum, selama ini, produknya tak dikenal di Jombang. Namanya justru cukup dikenal di Mojokerto. Tak heran, banyak pesanan patung dan replika yang datang dari kabupaten tetangga itu. Salah satunya, patung Gajah Mada di Wisata Desa Mojokerto. ”Desain dan kaki saya yang bikin, tapi kaki ke atas dikerjakan orang lain,” katanya.

Mengawali perbincangan dengan wartawan koran ini kemarin (26/9), ia lantas menceritakan asal muasal pembuatan patung sepak bola tersebut. ”Waktu itu ada yang menghubungi, dalam waktu dua hari, entah bagaimana caranya patung sudah berdiri di depan Stadion Merdeka Jombang, langsung saya iyakan,” ungkap dia.

Patung sepak bola yang kini menjadi ikon Stadion Merdeka Jombang merupakan karya pertamanya yang dipajang di kandang sendiri.  Pesanan mendadak itu secara tidak langsung mengingatkan pesanan yang diterima sebelum pandemi Covid-19 lalu. Ada salah satu daerah yang pesan patung sepak bola.

”Tapi tidak tahu apa yang terjadi di sana, kok tiba-tiba pesanannya di-cancel. Kemudian secara kebetulan ada tawaran dari kontraktor untuk Liga Santri, jadi langsung saya sanggupi,” jelasnya. Terlebih, sebelumnya, ia sempat menawarkan patung sepak bola tersebut ke Polres Jombang. Namun tidak disetujui karena belum menemukan tempat yang tepat untuk memajang.

Tuan rumah Liga Santri di Jombang tahun lalu menjadi momen pas untuk pemasangan patung sepak bola ini. ”Jadi saya hibahkan saja, saya hanya minta uang pemasangan untuk tim yang bekerja,” jelas Ali. Patung sepak bola yang diresmikan KSAD Jendral TNI Dr Dudung Abdurachman itu memiliki filosofi cukup mendalam. Postur badan yang tinggi padat berisi, menggambarkan sosok Diego Armando Maradona mantan pemain sepak bola legendaris Argentina.

Sementara wajahnya, adalah Dennis Bergkamp mantan pemain sepak bola berkebangsaan Belanda, yang pernah membela inter Milan dan Arsenal. Dua orang yang berbeda dalam satu tubuh inilah menurut Ali memiliki filosofi sportifitas. Sementara kostum yang dipakai bersifat netral. ”Dulu desain awal memang dipilih pemain besar sepak bola luar negeri, dulu lebih kecil, tapi saya buat besar dengan berbagai pertimbangan,” jelas dia.

Patung ini memiliki tinggi 2,3 meter dan lebar kurang lebih dua meter. Memiliki rangka besi cukup kuat dengan bahan utama semen dan pasir. Ia menggunakan teknik ukir basah. Patung baru diukir ketika kandungan airnya tersisa sekitar 20 persen. ”Kalau ukir kering kendalanya di debu,” jelasnya lagi.

Perpaduan warna hitam dengan cokelat keemasan, sengaja dipilih agar keberadaan patung menyerupai tembaga. ”Saya akali melalui pewarnaan agar tampak seperti tembaga,” beber dia. Untuk membuat patung ini ia harus menyesuaikan dengan segala aspek. Termasuk kekuatan rangka besi dengan mempertimbangkan arah angin agar patung tak mudah roboh.

Karya-karya lainnya banyak dipajang di Wisata Desa Mojokerto, seperti patung Garuda Wisnu Kencana, relief di dinding-dinding WD, garuda pancasila, dan masih banyak karya lainnya.

Maklum, sejak 1990-an, Ali sudah berkecimpung di dunia seni ukir. Dulu ia sebenarnya memiliki galeri di Bali, usaha bersama dengan adiknya. Namun tragedi Bom Bali membuat galerinya hancur dan tidak ada satupun karyanya tersisa. ”Saya akhirnya pulang ke Jombang buat galeri kecil-kecilan, adik fokus di batik,” jelasnya.

Sebagai seniman, ia berharap, Pemkab Jombang turut memperhatikan. Bukan semata-mata memberi bantuan peralatan atau modal, tapi juga membeli hasil karya seniman lokal. ”Kalau dibeli uang bisa muter, perekonomian seniman bisa berjalan. Tidak hanya seniman, UMKM juga. Mengapresiasi itu tidak harus dengan bantuan modal, tapi membeli, dan tolong dipromosikan ke daerah lain,” pungkasnya berharap. (wen/bin/riz) Editor : Achmad RW
#Sepak bola #patung #Olahraga #Stadion Merdeka #Jombang #monumen #features #patung sepak bola