”Jadi temuan di sekitar makam, kami menemukan banyak fragmen tembikar maupun porselin yang bentuk dan ukurannya beragam,’’ ujar Albertus Agung Vidi Susanto Pamong Budaya Ahli Pertama BPCB Jawa Timur, kepada Jawa Pos Radar Jombang, kemarin (26/7).
Saat berada di lokasi, tim dari BPCB menemukan beberapa pecahan keramik, gerabah dan porselin dengan ukuran dan jumlah yang beragam. Meski kondisinya tak utuh, namun dapat dipastikan jika pecahan gerabah dan keramik itu dari berbagai era. Diperkirakan, berbagai macam tembikar dan porselin itu mulai Dinasti Yuan, masa Vietnam abad 11, maupun Dinasti Qing abad 16-19.
”Bentuknya juga bervaritif mulai wadah dari porselin dan pecahan lainnya,’’ tambah dia. Disamping itu, BPCB juga menemukan pecahan tembikar dengan bentuk yang beragam. Mulai wadah, jambangan, pecahan anglo hingga fragmen bangunan. ”Dilihat dari macam temuan ini mengarahkan ke permukiman Majapahit kelas menengah,’’ jelasnya.
Dugaan lokasi tersebut merupakan permukiman era Majapahit kelas menengah. Hal ini diperkuat dengan temuan celupak atau lampu gantung yang terbuat dari tembaga. Apalagi celupak itu memiliki bentuk dan motif yang unik.
Dijelaskannya, celupak menjadi salah satu komponen permukiman menengah ke atas. Karena pembuatannya menggunakan cetakan. Dapat dilihat dari bentuk celupak yang beragam. "Kalau dilihat secara jeli cetakannya kurang rapi karena ada luberan di sekitar logam,’’ tandas Vidi serius.
Sebagai tindaklanjut, BPCB akan menyampaikan hasil identifikasi temuan yang didapatkan. Terlebih di wilayah Desa Kesamben dua tahun lalu sudah ada temuan Petirtaan Sumberbeji. "Kemungkinan ini ada hubungannya dengan itu,’’ pungkasnya. (ang/bin/riz) Editor : Achmad RW