Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

5 Unsur Moderasi Islam

Rojiful Mamduh • Selasa, 12 April 2022 | 15:51 WIB
Photo
Photo
JOMBANG – Moderasi Islam atau Islam wasatiyah merupakan posisi tengah-tengah yang merupakan terbaik. Tidak berlebihan dan tidak terlalu longgar. Tidak radikal namun juga tidak liberal. ’’Wasatiyah ini istimewa. Posisi tengah, disebutkan di tengah-tengah surat,’’ kata Katib Syuriyah PBNU, Dr KH Afifuddin Dimyati Alhafid (Gus Awis), saat menyampaikan materi dalam kajian Ramadan yang digelar Pusat Studi Alquran (PSQ) Unipdu di Islamic Center Unipdu, Minggu (10/4).

QS Albaqarah ada 286 ayat. Wasatiyah disebutkan dalam ayat ke-143. Kami telah menjadikan kamu umat Islam, umat yang wasat atau tengah-tengah. ’’Wasatiyah ini punya lima unsur,’’ ucap Gus Awis.

Pertama adalah terbaik. ’’Tengah-tengah adalah posisi terbaik,’’ ucapnya lalu mengutip QS Ali Imron 110. Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. ’’Amar makruf didahulukan,’’ tegasnya. Sebab orang yang sibuk melakukan kebaikan, pasti tidak akan sempat melakukan kemunkaran.

Santri yang sibuk belajar, ngaji dan menghafalkan, pasti tidak sempat main game.

Kedua adil. ’’Adil itu obyektif, mau mengakui keburukan diri sendiri, dan mau mengakui kebaikan orang lain,’’ tegasnya. Sebagaimana disebutkan dalam QS Almaidah 8.  Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil.

Ketiga, memudahkan dan menghilangkan kesukaran. Sebagaimana ditegaskan dalam QS Albaqarah 185.

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. ’’Umat wasatiyah selalu hadir memberi solusi,’’ terangnya. Perbudakan itu memberatkan dan merugikan, maka Islam hadir menghapus perbudakan.

Strategi dakwah yang dilakukan walisongo juga memudahkan. Sehingga berhasil menyebarkan Islam di nusantara. Sampai-sampai 90 persen penduduk nusantara sekarang ini muslim.

’’Ditengah gencarnya media sosial, kiai dan santri juga harus hadir,’’ terangnya. Kiai bisa ngaji di pesantren namun disiarkan secara online. Atau bisa langsung ngaji ke luar menemui masyarakat. Santri bisa menulis atau menyebarkan isi pengajian kiainya. ’’Kalau bisa, jadilah orang yang ditulis, karena keteladanan dan keilmuannya. Kalau tidak bisa, jadilah penulis,’’ sarannya.

Keempat, hikmah atau bijaksana.  ’’Untuk menjaga posisi ditengah itu tidak mudah, butuh kebijaksanaan,’’ tegas Gus Awis. Hikmah itu bisa diperoleh dengan terus belajar, sebagaimana disebutkan dalam QS Aljumuah 2. Hikmah juga bisa diperoleh langsung dari Allah karena terus zikir kepada Allah. Sebagaimana disebutkan dalam QS Albaqarah 269.

Walisongo itu ilmunya banyak, zikirnya juga istiqamah. ’’Kaedah usul Fiqih itu sudah mendarah daging, sehingga mewarnai setiap perilakunya,’’ jelasnya. Di pesantren, keilmuan terus dikembangkan. Zikir juga terus dibiasakan. Sehingga santri diharapkan menjadi kader yang akan mengembangkan Islam wasatiyah.

Kelima istiqamah. Godaan maupun tantangan untuk geser ke kanan maupun ke kiri sangat besar. Makanya kiai dan santri harus istiqamah ditengah. Orang yang istiqamah pasti akan diberi kesuksesan di dunia dan akhirat. Sebagaimana ditegaskan dalam QS Fussilat 30. ’’Wasitiyah sebagai posisi terbaik harus terus dikembangkan dan didakwahkan,’’ pesannya. Editor : Rojiful Mamduh
#kajian Ramadan #Islamic Center Unipdu