Di SPBU Mojongapit Jombang misalnya, pembelian pertamax tidak ada antrean dan cenderung normal seperti biasa. Kendaraan roda empat maupun roda dua yang memilih mengisi pertamax datang langsung dilayani. Hal sama juga terpantau di SPBU Tunggorono.
”Kalau harga hari ini masih tetap Rp 9 ribu per liter,” ujar salah satu petugas SPBU Mojongapit. Ia menyampaikan, saat ini pengawas SPBU sedang melakukan rapat dengan Pertamina terkait harga pertamax. ”Tapi kalau jadi naik harga pertamax pasti dadakan. Misal malam pemberitahuan, hari itu juga ganti harga. Jadi kayaknya tidak tahu kapan naik,” katanya.
Hal senada disampaikan Pengawas SPBU Tunggorono Yeni Sulistyaningsih, yang sampai sekarang mengaku belum mengetahui informasi harga baru BBM jenis RON 92 berlaku. ”Jadi belum ada pemberitahuan dari Pertamina sampai sekarang,” ungkap dia.
Tingkat penjualan pertamax di tempatnya bekerja juga tidak ada perubahan. Semua sama seperti biasanya. ”Tidak ada yang borong-borong,” sebutnya. Ia menilai, kenaikan harga pertamax pasti akan berdampak pembelian pertalite yang lebih banyak. ”Kalau pertama naik sampai Rp 16 ribu pasti semua orang beralih ke pertalite,” bebernya.
Salah seorang warga Mojongapit Didit, menilai kenaikan harga BBM sangat dikeluhkan masyarakat. Bila ada kenaikan harga, pasti akan berimbas pada bahan bakar pertalite yang akan semakin sulit. ”Kalau pertamax naik, semua pakai pertalite. Saya khawatir pertalite nanti akan sulit dicari,” sebut dia.
Sehingga masyarakat harus dipaksa menggunakan pertamax dengan harga yang diperkirakan nanti mencapai Rp 16 ribu per liter. ”Pasti semua barang-barang lainnya juga ikut-ikutan naik. Masyarakat akan susah lagi,” pungkasnya. Editor : Rojiful Mamduh