Pantauan di lokasi, struktur bata kuno terkubur dalam tanah. Dari ukurannya, bata berbentuk persegi panjang lebih tebal dari bata pada umumnya. Selain itu ukurannya juga lebih besar. "Ini kami mengetahuinya sejak lima bulan yang lalu sebenarnya," ujarnya Takim, 50, saat ditemui Jawa Pos Radar Jombang (19/3) di lokasi temuan.
Keberadaan struktur bata kuno di ladangnya pertama kali diketahui adiknya yang bernama Rofik. Saat itu adiknya mendapat informasi jika ladang kakaknya tersebut satu jalur dengan Situs Petirtaan Sumberbeji yang terletak di Desa Kesamben, Kecamatan Ngoro. "Akhirnya digali sama adik itu. Saya tidak ikut-ikut melakukan penggalian," katanya.
Setelah menggali dengan kedalaman mencapai 2 meter, sebagian struktur bangunan terlihat. "Ya ditemukan bata-bata ini saja. Batanya juga tidak terlalu besar seperti zaman dulu. Tapi juga berbeda dengan bata zaman sekarang," bebernya.
Karena masih sebagian yang digali, dia pun belum mengetahui struktur bangunan seperti apa. "Itu masih dalam lagi kelihatannya. Tapi kami biarkan saja," bebernya.
Selama ini belum melaporakan temuan struktur bata kulo yang ada di lahan buah pisang dan ketela ini. "Ya setelah ditemukan itu, ya dibiarkan saja. Tapi nggak tahu kok bisa ramai sekarang," ungkapnya.
Dia pun mengaku tak keberatan jika dari pihak berwenang meneliti lebih lanjut temuan struktur bata kulo yang terpendam di pekarangannya itu. "Ya kalau ada penelitian lebih lanjut ya nggak apa-apa. Yang penting ada kejelasan nasib lahan miliknya," pungkas Takim.
Dikonfirmasi terpisah, Sholichudin Kepala Desa Badang, Kecamatan Ngoro mengaku baru mendapat laporan melalui pesan singkat dari warganya terkait temuan struktur bangunan tersebut. "Memang kasunnya belum memberikan laporannya. Baru kemarin juga saya mendapat laporan," katanya.
Bahkan, ia sendiri juga belum mengetahui pasti letak temuan struktur bangunan tersebut. "Letaknya di lahan siapa saya juga belum tahu. Hanya tahu kalau di Dusun Wedani," ungkapnya.
Adanya temuan ini pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P&K) Jombang. "Tentu nanti kami akan laporkan ke dinas terkait," pungkas Sholichudin. Editor : Rojiful Mamduh