Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Saat Siswa SDN Galengdowo 1 Wonosalam Berlatih Karawitan

M Nasikhuddin • Minggu, 6 Maret 2022 | 15:51 WIB
Photo
Photo
Banyak cara untuk melestarikan budaya kepada generasa muda. Salah satunya, mengajarkan siswa karawitan seperti yang dilakukan siswa di SDN Galengdowo 1 Wonosalam. Seperti apa?

AWAN hitam tak kunjung beranjak menyelimuti permukiman warga Dusun/Desa Galengdowo, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, kemarin (5/3). Hawa dingin makin terasa saat menginjakkan kaki di desa yang terletak lereng Gunung Anjasmara ini.

Samar-samar, lantunan alat musik gamelan terdengar, membuat hati terasa ayem tentrem. Jauh dari hingar bingar perkotaan. Rasa penasaran terbayar saat melintas di depan SDN Galengdowo 1. Di sekolah yang berada di ujung selatan Jombang ini ekstrakurikuler karawitan rutin diikuti anak-anak, sejak beberapa tahun terakhir.

”Sudah hampir enam tahun ini kita ajarkan ekstrakurikuler karawitan. Mereka yang belajar kelas 4 dan 5, sedangkan kelas 6 fokus persiapan ujian akhir,’’ ujar Juwadi Kepala SDN Galengdowo 1, mengawali perbincangan dengan Jawa Pos Radar Jombang.

Juwadi sendiri salah satu kepala sekolah yang getol uri-uri budaya. Secara langsung, ia turun mengajarkan anak-anak bermain alat gamelan. Satu persatu anak-anak dikenalkan cara bermain kenong, bonang, gong dan lain-lain. Juwadi juga yang mengajarkan bagaimana memainkan intonasi sesuai lagu yang dimainkan.

”Seperti lagu Buta Buta Galak yang kita mainkan hari ini. Kita butuh waktu hampir tiga minggu agar bisa memainkan dengan lancar,’’ terangnya. Menurut dia, ada tantangan tersendiri saat melatih anak-anak bermain gamelan. Selain suka bercanda, mereka terkadang lupa dengan jadwal latihan.

Padahal dia mengakui tingkat konsentrasi anak-anak lebih tajam daripada orang dewasa. ”Kalau bisa tidaknya itu bergantung niat. Kalau mereka niat ya cepat bisa,’’ terangnya lagi.

Ia menegaskan, tujuan dilatihnya anak-anak bermain gamelan tidak hanya uri-uri budaya. Sekaligus mengajarkan nilai-nilai kebersamaan dalam bermain musik gamelan. ”Ada filosofi tersendiri dalam musik gamelan. Guyub rukun. Artinya, jika musiknya tidak dimainkan bersama-sama satu dengan yang lain. Maka suara musik tidak enak didengar. Sama halnya dalam menjalankan kehidupan sehari-hari kalau tidak bersosialisasi tentu tidak bisa,’’ jelas dia.

Ia mengaku, alat musik gamelan yang dimili belum lengkap. Karena itu ia berupaya melengkapi peralatan gamelan tersebut bertahap. Termasuk dengan cara mencicil. ”Kita nyicil karena harganya juga mahal. Satu alat gamelan seperti bonang ini seharga Rp 500 ribu. Itupun yang terbuat dari besi, kalau dari kuningan bisa mencapai jutaan rupiah,’’ pungkas Juwadi. Editor : M Nasikhuddin
#Berlatih Karawitan #Nguri-nguri Budaya #Siswa SDN Galengdowo 1