Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Warga Kampung Adat Segunung Jombang Ini Punya Tradisi Permata: Upaya Lestarikan Lahan Kritis Lewat Aksi Tanam Pohon

Anggi Fridianto • Kamis, 18 Desember 2025 | 14:33 WIB

 

   DITANAM: Warga kampung adat Segunung Desa Carangwulung Kecamatan Wonosalam menanam bibit pohon di lahan kritis hutan Boscini, Kamis (11/12).   
  DITANAM: Warga kampung adat Segunung Desa Carangwulung Kecamatan Wonosalam menanam bibit pohon di lahan kritis hutan Boscini, Kamis (11/12).  
 

 

Radarjombang.id - Warga Kampung Adat Segunung, Desa Carangwulung, Kecamatan Wonosalam, terus menjaga kearifan lokal dalam melestarikan alam.

Salah satu tradisi yang konsisten dilakukan adalah Perlindungan Mata Air (Permata) dengan menanam bibit pohon di sekitar sumber mata air kawasan hutan Bocini, Kamis (11/12).

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya perlindungan sumber mata air yang berada di lahan kritis lereng Gunung Anjasmoro.

Selain bertujuan konservasi, tradisi tersebut juga mencerminkan hubungan harmonis masyarakat adat dengan alam.

Sejak pagi, warga bersama mahasiswa berkumpul di Balai Dusun Segunung.

Ratusan bibit tanaman hingga bekal makanan tradisional sudah disiapkan untuk mengisi kegiatan Pemata.

Perjalanan dari balai dusun hingga kawasan hutan cukup jauh, sekitar 3 kilometer yang bisa ditempuh dengan jalan kaki. Sebagian warga juga menggunakan kendaraan roda dua yang sudah dimodifikasi ala trail.

Setiba di lokasi, warga langsung membagi tugas. Ada yang menanam bibit di kawasan lereng hutan, ada juga yang membersihkan area sumber mata air dari kayu lapuk maupun dedaunan kering. Medan terjal, jalan bebatuan bukan menjadi halangan warga untuk melestarikan alam.

Ketua Kampung Adat Segunung Supi’I menjelaskan, tahun ini ratusan bibit ditanam bersama warga dan mahasiswa lewat kegiatan Permata.

Bibit yang ditanam terdiri dari berbagai jenis pohon buah-buahan, bambu, dan tanaman keras lainnya.

”Total sekitar 300 bibit pohon buah, ditambah bibit bambu kurang lebih 150 bibit. Bambu ini sebagian besar hasil swadaya warga,” ujar Supi’i.

Menariknya, jenis bambu yang ditanam bukan sembarang bambu.

Warga memilih bambu Jakarta. Menurut Supi’i, bambu jenis ini memiliki pertumbuhan lebih cepat dan ukuran batang yang relatif kecil, sehingga cocok untuk kebutuhan konservasi dan pemanfaatan tradisional.

”Bambu ini nantinya bisa dimanfaatkan untuk umbul-umbul kegiatan adat, pagar taman, atau keperluan lainnya. Tapi tujuan utamanya tetap untuk konservasi,” jelasnya.

Tradisi penanaman bibit ini rutin dilakukan setiap tahun, tepatnya pada awal musim hujan. Waktu pelaksanaan biasanya antara Desember hingga Januari, menyesuaikan kondisi cuaca. ”Kegiatan ini sudah kami lakukan sejak 2019.

Awalnya hanya melibatkan warga dan komunitas pecinta alam. Tahun ini ada keterlibatan mahasiswa juga,” tambah Supi’i.

Lokasi penanaman berada di sekitar sumber mata air Boscini, yang sejak dulu dikenal warga sebagai kawasan hutan Bocini.

Kawasan ini merupakan wilayah peralihan yang mencakup area Perhutani, Tahura, dan kawasan lainnya, serta berada di lereng perbukitan Wonosalam.

Bagi warga Kampung Adat Segunung, menanam pohon bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bentuk tanggung jawab lintas generasi untuk menjaga keberlangsungan sumber air dan ekosistem hutan.

”Air adalah sumber kehidupan. Kalau hulunya rusak, yang di bawah akan terdampak,” tutup Supi’i. (ang/naz)

 

Editor : Anggi Fridianto
#Kampung Adat Segunung #Jombang #permata #carangwulung #tanam pohon #Wonosalam