Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kopi Excelsa Wonosalam, Kopi Primadona yang Rasanya Beragam

A
Penulis: Achmad RW❯
Photo
Photo
JOMBANG - Kopi excelsa menjadi salah satu produk unggulan Wonosalam, bahkan kini semakin eksis setelah masuk pasar ekspor. Kopi yang tumbuh subur di lereng kaki Gunung Anjasmoro Wonosalam ini dikenal memiliki rasa istimewa. Sebagian pecinta kopi menyebut keistimewaan kopi excelsa Wonosalam dari rasa pahit, manis, masam dan sepat bercampur jadi satu.

Kopi dengan karakter biji kecil dan berdaun lebar ini tumbuh subur hampir di semua desa di Wonosalam. Salah satunya ditemukan di Dusun Sumber, Desa/Kecamatan Wonosalam.

Photo
Photo
Bentuk biji kopi ekselsa yang lebih kecil dari biji kopi umumnya

Wiknyo Susandi, 27, petani kopi Wonosalam mengatakan, mulanya ada tiga jenis kopi unggulan khas Wonosalam. Masing-masing arabika, liberika dan robusta. ”Kemudian, kopi liberika ada varietasnya yakni, excelsa yang saat ini tengah dikembangkan di Wonosalam,” ujar dia kepada Jawa Pos Radar Jombang, kemarin (1/6).

Dijelaskan, excelsa Wonosalam memiliki karakteristik unik dibandingkan kopi excelsa dari daerah daerah lainnya. ”Yakni memiliki tingkat keasaman yang khas. Acidnya lebih kuat dibandingkan excelsa dari daerah lain,” tambahnya.

Kopi excelsa juga sering disebut kopi asisa bagi warga setempat. Secara fisik, kopi ini memiliki biji yang lebih kecil dibandingkan varietas lainnya. Namun, bobot atau kepadatan isi kopi excelsa lebih berat dibandingkan varietas lain. ”Karena kerapatan rongga pori-porinya padat,” papar dia.

Selain itu, ciri umum kopi excelsa juga dapat dilihat dari bentuk daun yang lebih besar (lihat foto) dibandingkan daun robusta maupun arabika. ”Ciri paling mudah dilihat dari daunnya,” jelas dia.

Untuk mendapatkan excelsa unggulan, ada beberapa teknik perawatan yang perlu dilakukan. Pertama memperhatikan jarak tanam minimal 3,5 meter sampai 4 meter. Pasalnya, kopi excelsa memiliki pohon yang besar dan ranting yang panjang. ”Kalau ingin hasil panen lebat harus diberi jarak tanam sekitar 3,5 meter sampai 4 meter. Makanya, petani kalau panen excelsa biasanya pakai tangga, karena pohonnya bisa menjulang tinggi seperti pohon cengkeh,” jelas dia. Jika perawatan optimal, satu pohon dapat menghasilkan 10 kilogram kopi per panen.

Berbicara harga jual sendiri, kopi Wonosalam sebenarnya relatif. Artinya, harga bisa meningkat hingga dua kali lipat jika petani mau memperhatikan proses pascapanen. ”Harga itu relatif, kalau komersial grade untuk kopi asalan atau kopi yang diproses dengan asal, baik petiknya dicampur yang merah dan hijau maupun prosesnya secara asal-asalan harganya mulai Rp 27 ribu- 30 ribu per kilogram (green been),” ujar dia.

Namun, jika diolah dengan benar untuk mendapatkan cita rasa yang khas dari jenis kopi itu sendiri harganya bia naik. Untuk jenis liberika mulai Rp 70 ribu-100 ribu per kilogram, excelsa Rp 60-75 ribu per kilogram dan arabika Rp 100-150 ribu per kilogram. ”Kalau saya sendiri tidak menjual kopi asalan. Namun saya lebih tertarik ke premium grade. Meski prosesnya ribet tapi bisa menaikkan harga jual,” pungkasnya. (ang/naz/riz)

Advertisement
Advertisement

Artikel Terkait

Diduga Akibat Korsleting Listrik, Rumah Warga Pojokrejo Kesamben Ludes Terbakar

Diduga Akibat Korsleting Listrik, Rumah Warga Pojokrejo Kesamben Ludes Terbakar

Kebakaran menghanguskan satu unit rumah milik Robian, warga Dusun Ngerco, Desa Pojokrejo, Kecamatan Kesamben, Sabtu (7/11) malam.

Tak Sekadar Penghijauan, Desa Jombok Jombang Sulap Pinggir Jalan Jadi Kebun Buah Gratis

Tak Sekadar Penghijauan, Desa Jombok Jombang Sulap Pinggir Jalan Jadi Kebun Buah Gratis

Ruas jalan dan tanggul sungai di Desa Jombok, Kecamatan Ngoro, tak sekadar menjadi akses mobilitas warga. Beragam pohon buah tumbuh subur di sepanjang jalur tersebut. Saat berbuah, hasilnya boleh dinikmati

Tiga Perkara yang Dirahasiakan Allah, Jangan Remehkan Amal Kecil dan Sesama Manusia

Tiga Perkara yang Dirahasiakan Allah, Jangan Remehkan Amal Kecil dan Sesama Manusia

Saat ngaji usai salat Zuhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Kamis (5/11), pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Khoir, Desa Mojotrisno, Kecamatan Mojoagung, KH Miftahul Khoiri, menjelaskan hal yang dirahasi

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer