alexametrics
24.5 C
Jombang
Friday, June 24, 2022

Tradisi Wiwit Kopi di Kampung Adat Segunung yang Masih Lestari

JOMBANG – Masyarakat Wonosalam sangat menghargai warisan nenek moyang. Salah satu tradisi yang masih terjaga hingga kini, yakni tradisi wiwit kopi di Kampung Adat Segunung, Desa Cararangwulung, Kecamatan Wonosalam. Tradisi ini dilakukan warga sebagai bentuk rasa syukur sebelum memulai masa panen kopi.

Dalam bahasa Jawa, wiwit berarti memulai. Tradisi wiwit kopi ini merupakan tradisi memulai panen kopi. Diketahui, kopi merupakan salah satu komoditas unggulan warga Dusun Segunung. ”Tradisi ini dulunya dilakukan sendiri-sendiri atau individu oleh warga. Namun sejak beberapa tahun terakhir, kita adakan secara bersama-sama,’’ ujar Supi’i Ketua Kampung Adat Segunung kepada Jawa Pos Radar Jombang, kemarin (22/6).

Tradisi wiwit kopi di Kampung Adat Segunung berlangsung sakral. Dimulai dengan seluruh warga kampung adat yang berpakaian serba hitam memasuki salah satu kebun kopi. Dua pengurus di barisan depan membawa Sri Dompol alat untuk mengambil kopi dari pohon.

Baca Juga :  11 Ruko Tutup, 43 Penyewa Akhirnya Mau Nyicil Tunggakan Sewa

Mereka didampingi wanita yang membawa nampan dengan kain putih bersih. Di belakang mereka, ada warga lain yang membawa tumpeng untuk kenduri di tengah kebun kopi.

Setiba di lokasi, salah satu tokoh adat mengujubkan (mendoakan) agar hasil panen kopi tahun ini melimpah. ”Kemudian tokoh adat bersama warga memetik kopi merah dan menaruh ke dalam nampan di atas kain putih. Kemudian hasil petik kita arak bareng-bareng ke pendopo,’’ jelas dia.

Dijelaskan, tradisi wiwit kopi ini bakal diagendakan setiap tahun ketika memasuki musim panen. Panen kopi biasanya dimulai pada Juni hingga puncaknya pada September. ”Tradisi ini merupakan bentuk rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa atas berkah panen raya melimpah,’’ tambahnya.

Selain itu, tradisi ini juga dilakukan sebagai wujud menjaga rasa kebersamaan dan gotong royong antarwarga Kampung Adat Segunung. Di Segunung sendiri, potensi kopi cukup besar. Ia mencatat, ada sekitar 60-70 hektare lahan yang ditanami kopi.

Baca Juga :  Dewan Temukan Pembangunan Puskesmas Ngoro Jombang Bermasalah

Per hektare lahannya, lanjut Supi’i, ditanam sedikitnya 1.000 pohon kopi. ”Adapun produk unggulan kopi di sini adalah jenis robusta. Karena selain perawatan cukup mudah juga produksinya sangat tinggi,’’ papar dia.

Dalam setiap musim panen, Dusun Segunung mampu menghasilkan antara 50-60 ton kopi. Selain robusta, ada juga varian excelsa dan arabika. Hanya saja, populasinya tidak begitu banyak dibandingkan robusta. ”Untuk penjualan, teman-teman sudah memiliki pasar tersendiri. Ada yang dijual ke tengkulak, kerja sama dengan pabrik kopi, kafe maupun diolah sendiri melalui home industri yang ada di Wonosalam,’’ pungkasnya.

selanjutnya……






Reporter: Anggi Fridianto
- Advertisement -

JOMBANG – Masyarakat Wonosalam sangat menghargai warisan nenek moyang. Salah satu tradisi yang masih terjaga hingga kini, yakni tradisi wiwit kopi di Kampung Adat Segunung, Desa Cararangwulung, Kecamatan Wonosalam. Tradisi ini dilakukan warga sebagai bentuk rasa syukur sebelum memulai masa panen kopi.

Dalam bahasa Jawa, wiwit berarti memulai. Tradisi wiwit kopi ini merupakan tradisi memulai panen kopi. Diketahui, kopi merupakan salah satu komoditas unggulan warga Dusun Segunung. ”Tradisi ini dulunya dilakukan sendiri-sendiri atau individu oleh warga. Namun sejak beberapa tahun terakhir, kita adakan secara bersama-sama,’’ ujar Supi’i Ketua Kampung Adat Segunung kepada Jawa Pos Radar Jombang, kemarin (22/6).

Tradisi wiwit kopi di Kampung Adat Segunung berlangsung sakral. Dimulai dengan seluruh warga kampung adat yang berpakaian serba hitam memasuki salah satu kebun kopi. Dua pengurus di barisan depan membawa Sri Dompol alat untuk mengambil kopi dari pohon.

Baca Juga :  Berendam di Sungai Sambil Menikmati Sejuknya Udara Pegunungan

Mereka didampingi wanita yang membawa nampan dengan kain putih bersih. Di belakang mereka, ada warga lain yang membawa tumpeng untuk kenduri di tengah kebun kopi.

Setiba di lokasi, salah satu tokoh adat mengujubkan (mendoakan) agar hasil panen kopi tahun ini melimpah. ”Kemudian tokoh adat bersama warga memetik kopi merah dan menaruh ke dalam nampan di atas kain putih. Kemudian hasil petik kita arak bareng-bareng ke pendopo,’’ jelas dia.

Dijelaskan, tradisi wiwit kopi ini bakal diagendakan setiap tahun ketika memasuki musim panen. Panen kopi biasanya dimulai pada Juni hingga puncaknya pada September. ”Tradisi ini merupakan bentuk rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa atas berkah panen raya melimpah,’’ tambahnya.

- Advertisement -

Selain itu, tradisi ini juga dilakukan sebagai wujud menjaga rasa kebersamaan dan gotong royong antarwarga Kampung Adat Segunung. Di Segunung sendiri, potensi kopi cukup besar. Ia mencatat, ada sekitar 60-70 hektare lahan yang ditanami kopi.

Baca Juga :  Dewan Temukan Pembangunan Puskesmas Ngoro Jombang Bermasalah

Per hektare lahannya, lanjut Supi’i, ditanam sedikitnya 1.000 pohon kopi. ”Adapun produk unggulan kopi di sini adalah jenis robusta. Karena selain perawatan cukup mudah juga produksinya sangat tinggi,’’ papar dia.

Dalam setiap musim panen, Dusun Segunung mampu menghasilkan antara 50-60 ton kopi. Selain robusta, ada juga varian excelsa dan arabika. Hanya saja, populasinya tidak begitu banyak dibandingkan robusta. ”Untuk penjualan, teman-teman sudah memiliki pasar tersendiri. Ada yang dijual ke tengkulak, kerja sama dengan pabrik kopi, kafe maupun diolah sendiri melalui home industri yang ada di Wonosalam,’’ pungkasnya.

selanjutnya……






Reporter: Anggi Fridianto

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/